InfOz pLu$

April 3, 2008

Menggagas program pemberdayaan ZISWAQ yang berkelanjutan

Filed under: ARTIKEL — beritazakat @ 9:37 am
Tags: ,

Keinginan Organisasi Pengelola Zakat untuk membenai program pengentasan kemiskinan terus dilakukan. Adalah Circle of Information and Development (CID) lembaga kajian yang berorientasi pada pembangunan masyarakat berkelanjutan, Subordinasinya Dompet Dhuafa yang menyelenggarakan Diskusi Intensif Pada 12/04 di Wisma Syahida Inn Ciputat, membincang mengenai konsep baru yakni Sustaianable livelihood approach

(SLA) serta kemungkinannya disesuiakan dan diterapkan di lingkungan OPZ dan lembaga sosial lainnya.

Dikusi yang dihadiri tidak kurang dari 40 peserta perwakilan dari LAZNAS serta beberapa praktisi dan akademisi NGO Indonesia mengusung tema “Sustaianable livelihood approach dalam kerangka program pemberdayaan ZISWAQ“. Tujuan utama dari diskusi ini selain untuk mensosialisasikan program pemberdayaan masyarakan dengan pendekatan Sustaianable livelihood approach juga ingin merancang sebuah program yang diadopsi dari SLA untuk dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan budaya di Indonesia.

Nara sumber yang hadir dalam diskusi ini adalah Pakar program Untuk Kesejahteraan Sosial yaitu Bapak Prof. Dr. Ir, Sahri Muhammd, MS Guru Besar Universitas Brawijaya. dan Ade Gunawan praktisi NGO dari Association for community empowerment.

Sustainalbuility Livelihood approach atau yang lebih dikenal dengan SLA adalah program yang sedang dikembangkan untuk mengatasi kemiskinan di tingkat global. SLA yang awalnya dipopulerkan oleh Robert Chambers dan Gordon Conway dari IDS-Brighton-UK kini sudah menjadi istilah program pembagunan yang berkelanjutan. SLA sudah banyak di terapkan oleh lembaga-lembaga sosial tingkat internasional seperti DFID, UNDP, SIDA, CARE, OXFAM, Kanya dll. Adapun yang dimaksud SLA itu sendiri adalah kegiatan yang dibutuhkan oleh setiap orang/masyarakat untuk menjalankan kehidupannya dengan menggunakan kapasitas/ kemampuan serta kepemilikan sumber daya untuk mencapai tingkat kehidupan yang diharapkan.

TERDAPAT EMPAT ASPEK POKOK YANG MENJADI PEMBAHASAN SLA PERTAMA KEGIATAN DAN ASET KEHIDUPAN KEDUA CAPAIAN (OUTPUT) LIVELIHOOD KETIGA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEEMPAT DIAGRAM YANG MENGHUBUNGKAN ELEMEN KUNCI SLA.

KEGIATAN

Yang dimaksud kegiatan dalam SLA adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh manusia/keluarga untuk mencapai harapan kehidupannya. Berbagai kombinasi kegitan untuk mencapai kehidupan yang diharapkan adalah livelihood strategy atau strategi dalam mencapai keberhasilan. Kegiatan tersebut bisa berupa aktifitas produksi, sosial, reproduksi, dsb dan strategi ini semakin rumit karena faktor internal dan eksternal semakin beragam. Misalnya individu yang bekerja di tempat yang berbeda, individu yang merangkap lebih dari satu profesi Sebagai Nelayan+Petani+ Tukang, Kerja di kota dan tinggal di desa

ASET

Aset adalah sesuatu yang dimiliki (berkuasa mengkontrol) atau dapat diakses untuk menjalankan penghidupan. Aset merupakan modal untuk melaksanakan kegiatan sehingga tujuan penghidupan bisa dicapai. DFID mengkelompokkan aset ke dalam lima kelompok yang disebut Pentagon Aset yaitu:

1) Human Capital (Sumberdaya Manusia) yang masuk kategori aset ini adalah Kesehatan, Pendidikan, Pengetahuan dan Ketrampilan, Kapasitas untuk Bekerja, Kapasitas untuk Beradaptasi

2) Natural Capital (Sumberdaya Alam) mencakup; Tanah dan Produksinya, Air dan Sumber daya air di dalamnya (ikan), Pohon dan Hasil Hutan, Binatang buruan, Serat dan pangan yang tidak dibudidayakan, Keanekaragaman Hayati, Sesuatu kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan

3) Financial Capital (Sumberdaya Keuangan) yaitu ;Tabungan atau simpanan, termasuk dari ZISWAF, Kredit/hutang /hibah baik fomal maupun informal, juga yang diberikan LSM/ BAZIS/ LAZIS, Kiriman dari keluarga yang bekerja di luar daerah, Dana Pensiun, Keuntungan usaha, Upah/Gaji,

4) Social Capital (Sumberdaya Sosial)yaitu; Jaringan dan Koneksi, Patronyang terbangun, Kerukunan antar tetangga, Hubungan Baik, Hubungan yang berbasis rasa saling percaya dan saling mendukung, Kelompok formal dan informal, termasuk AMIL Zakat, Peraturan umum dan sanksi, Keterwakilan , Mekanisme berpartisipasi didalam proses pengambilan keputusan,Kepemimpinan

5) Physical Capital (Sumberdaya Infrastruktur)

  • Infrastruktur termasuk; Jaringan transportasi, kendaraan, dsbnya, Gedung dan tempat tinggal, Sarana Kebersihan dan Air bersih, Energi, Jaringan Komunikasi
  • Teknologi dan Alat-alat; Alat alat dan peralatan untuk produksi, Bibit, pupuk, pestisida, Teknologi tradisional

6). Spiritual Capital (Sumberdaya Imani)

CAPAIAN

Capaian akhir dari livelihood adalah kesejahteraan saat ini dan bagi generasi mendatang. Namun prioritas pencapaian jangka pendek perlu ditargetkan, karena capaian sifatnya beragam maka ketepatan mengindentifikasi sesuai harapan dapat membuat proses pembangunan lebih cepat dan tepat.

Alasan kenapa SLA menggunakan istilah capaian livelihood bukan menggunakan istilah tujuan karena tujuan menggambarkan sesuatu yang statis sedangkan hasil yang mau dicapai dari setiap kegiatan livelihood adalah sesuatu yang dinamis dan cenderung relatif.

Untuk mengukur capaian dari kegiatan yang diinginkan bisa dilakukan dengan Mendiskusikan indikator-indikatornya dengan masyarakat kelompok sasaran serta mengajak mereka memantau proses-proses yang berjalan dan mengamati perubahan-perubahan yang tidak terduga misalnya:perubahan dalam hubungan sosial, akumulasi atau hilangnya aset-aset oleh kelompok tertentu, dsb.

Capaian buruk bisa terjadi dimungkinkan karena adanya aset yang tidak seimbang dan rentan, bisa jadi aset tidak dapat berkelanjutan, tidak mampu menghadapi dan berkembang kembali ketika terjadi perubahan mendadak, maupun perubahan yang terjadi secara perlahan. Tidak didukung atau bahkan mungkin dirusak oleh kebijakan, institusi dan proses sehingga aset tidak dapat digunakan sebagaimana seharusnya digunakan. Strategi penghidupan yang dikembangkan dari kombinasi pilihan livelihood yang jelek dan tidak berkelanjutan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Terdapat dua kategori foktor yang bisa mempengaruhi capaian Livelyhood program yakni pertama faktor internal misalnya: Motivasi, kekuatan aset yang dimiliki dan yang kedua adalah faktor external yang terdiri dari dua faktor pertama kerentanan yaitu perubahan yang terjadi baik secara cepat, lambat maupun musiman yang mengakibatkan rentannya masyarakat dan kedua Struktur dan Proses yaitu perubahan yang diakibatkan oleh kebijakan, norma-norma yang dikeluarkan oleh pemerintah, masyarakat, LSM, BAZISWAF maupun pengusaha.

Faktor kerentanan sendiri terdiri dari tiga faktor pertama faktor perubahan lambat (Trends) misalnya: Pertambahan Jumlah Penduduk, Perubahan teknologi, Perubahan fungsi hutan, sumberdaya ikan, polusi air dan udara. Kedua adalah Faktor perubahan mendadak (Shocks) Misalnya: Banjir, Wabah penyakit , Konflik. Ketiga adalah faktor perubahan musiman (Seasonality), Musim panen, Musim kering, Musim hujan

Pengaruh Faktor Kerentanan Terhadap Aset, Dampak faktor kerentaan terhadap aset dapat terindikasi dari pertama Perubahan perlahan masih bisa diramalkan namun dampaknya sulit diatasi. Mis. Pertambahan penduduk akan mengurangi ruang untuk mengembangkan aset livelihood. Kedua Perubahan yang mendadak misalnya bencana alam, banjir atau konflik sosial bisa menghancurkan aset (rumah, jalan, tanaman, hewan) secara langsung. Naiknya harga BBM atau menurunnya nilai tukar yang mendadak juga secara nyata bisa mengakibatkan masyarakat kehilangan daya belinya. Ketiga Perubahan musiman seperti ketersediaan pangan, ketersediaan pekerjaan atau sebaliknya kesulitan pangan atau pekerjaan juga merupakan perubahan-perubahan yang penting terhadap aset.

Hubungan Aset terhadap capaian livelihood adalah Jika capaian dari kegiatan livelihood adalah positif maka hasil tersebut bisa memperkuat aset. Kedua Jika capaian dari kegiatan livelihood adalah negatif maka akan terjadi mekanisme mengurangi aset yang sudah ada.

Pengaruh Struktur Dan Proses terhadap capaian livelihood, Struktur berarti perangkat keras organisasi, baik swasta (LSM, OPZ) maupun pemerintah (BAZNAS, DEPAG, DPR) yang menetapkan dan melaksanakan kebijakan dan legislasi dan fungsi-fungsi lain yang mempengaruhi livelihoods. Pentingnya struktur karena; Struktur membuat proses-proses menjadi berfungsi, Tanpa ada badan legislatif maka tidak ada legislasi, Tanpa ada lembaga hukum yang melaksanakannya maka legislasi tidak berarti, Tanpa pedagang maka pasar hanya akan terbatas melangsungkan transaksi dagang, Dengan adanya ZISWAF penguatan aset masyarakat miskin akan berlangsung sustainable, Tiadanya struktur-struktur yang memadai bisa menjadi hambatan utama bagi pembangunan (misalnya di daerah yang terpencil), Ketika masyarakat tidak mempunyai akses ke organisasi-organisasi negara mereka seringkali hanya mempunyai pengetahuan yang sedikit tentang hak-hak mereka, dan terbatas pemahamannya mengenai fungsi dan jalannya pemerintahan.

Proses bisa dianggap sebagai perangkat lunak, yang menentukan cara-cara di mana struktur dan individu berjalan dan berhubungan. Proses dianggap sebagai faktor berpengaruh dengan kegiatan livelihood karena Pertama Proses menyediakan dukungan. Misalnya menggerakkan masyarakat untuk membuat pilihan-pilihan khusus (mengenai strategi livelihoods mana yang akan dilaksanakan, di mana melakukannya, berapa banyak yang harus dikeluarkan untuk melakukan investasi dalam berbagai jenis aset-aset livelihoods, bagaimana mengelola sumberdaya, dan sebagainya). Kedua Proses dapat memberi atau menolak akses pada aset-aset.Ketiga Proses memungkinkan masyarakat untuk mengubah satu jenis aset menjadi jenis aset lainnya (melalui pasar). Keempat Proses mempunyai pengaruh kuat pada hubungan inter-personal – bagaimana satu kelompok memperlakukan kelompok yang lain.

Pengaruh struktur dan proses terhadap aset, struktur dan proses memiliki dampak signifikan terhadap pentingnya aset, karena ada beberapa suku tertentu secara tegas lebih mengutamakan pendidikan bagi anak laki-laki daripada anak perempuan, Adanya peraturan baik yang tertulis maupun tidak yang memberikan akses kepada anak laki-laki tertua untuk mendapatkan tanah warisan adat maupun keluarga. Pemerintah mengeluarkan Surat Izin Pengelolaan Tanah Ulayat suku tertentu kepada pengusaha yang mengakibatkan tanah ulayat tersebut tidak lagi menjadi aset suku pemiliknya kegiatan hal tersebut harus didapat dijadikan pertimbangan sebelum menerapkan program livelihood diderah terkait.

Pengaruh struktur dan proses terhadap kegiatan livelihood; Pelarangan pedagang kaki lima untuk berjualan di jalan-jalan tertentu akan secara otomatis memaksa para pedagang tersebut merubah kegiatan livelihoodsnya. Ketika sebuah organisasi BAZIS/LAZISWAF memberikan dukungan keuangan bagi orang-orang yang memiliki kegiatan membuat batu bata maka beramai-rami orang akan beralih menjadi pembuat batu bata apapun kegiatan livelihoodnya selama ini.

Pengaruh struktur dan proses Terhadap faktor kerentaan, gabungan dari kedua faktor diatas menjadi penting pengaruhnya kepada kerentaan bisa nyata dalam kasus-kasus berikut; Kebijakan bisa mendorong atau mencegah terjadinya pengalihan fungsi lahan, Kenaikan BBM pada skala global adalah kebijakan yang dihasilkan oleh tawar menawar antara pedagang minyak internasional. Akibatnya orang beralih ke bioenergi dan akan menurunkan penambangan minyak. Kebijakan nasional menaikkan harga minyak membuat masyarakat semakin rentan karena daya belinya menurun, Kebijakan fiskal dan moneter adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akan berakibat apakah akan menguatkan sumber daya manusia orang miskin atau suasana yang diharapkan pengusaha., Kebijakan pemerintah untuk membangun sistem kewaspadaan dini merupakan upaya mencegah banyak korban ketika terjadi bencana, Sebagai upaya untuk menghasilkan aset yang kuat agar kegiatan/strategi livelihood bisa berjalan optimal, Aset yang ada dapat dirubah menjadi aset lain, Satu jenis aset dapat diganti dengan jenis aset lainnya. ,

DIAGRAM YANG MENGHUBUNGKAN ELEMEN KUNCI SLA

Elemen Kunci SLA terdiri dari dua aspek pertama Livelihood : berarti penghidupan, mencakup; Kapasitas/ Kemampuan, Aset dan Kegiatan, kedua adalah Berkelanjutan (Sustainable) hal ini terindikasi dari kemampuan program menghadapi perubahan, Tahan terhadap tekanan dan goncangan, Menguatkan kehidupan mencapai hasil yang diharapkan

Kunci Kekuatan : Penguasaan Aset, Proses dan Kegiatan adalah terdapat pada besar/kecilnya, keragaman, dan keseimbangan penguasaan aset. Serta kebutuhannya terhadap sejumlah aset untuk mencapai hasil-hasil livelihoods yang positif. Dan perlu disadari karena satu jenis aset bisa bermakna ganda

KESIMPULAN

Penerapan konsep SLA akan menjadi berhasil jika mengacu pada empat pendekatan sebagai berikut; Menganalisis fenomena kemiskinan, Merumuskan tujuan untuk meningkatkan livelihood masyarakat miskin, Panduan tentang prinsip pengentasan kemiskinan, Pendekatan pembangunan.

Dan untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam menerapkan Konsep SLA, maka dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut; Berpusat Pada Manusia/ Masyarakat, Fokus pada Kemiskinan, Responsif dan Partisipatif, Menyeluruh, Multi Level, Multi Sektor dan Sistemik, Dilaksanakan Secara Kemitraan, Berkelanjutan, Dinamis, Keadilan, Menjunjung Hak Asasi Manusia

Seluruh Elemen Livelihood saling mempengaruhi. Oleh karena itu, program pemberdayaan ZISWAF yang dilakukan secara sustaInable agar memperkuat aset, akses, kegiatan dan capaian kesejahteraan masyarakat miskin. Sustainabilitas pemberdayaan merupakan kata kunci.

Agar proses pemberdayaan dan kegiatan ZISWAF dapat meraih capaian yang optimal, maka diperlukan identifikasi struktur, proses dan kegiatan mana saja yang berpengaruh besar baik sebagai pendorong maupun penghambat capaian kegiatan pemberdayaan.

Dampak dukungan ZISWAF terhadap Livelihood masyarakat miskin akan berkelanjutan kalau dukungan aset yang diberikan bisa menghasilkan kegiatan yang menguatkan aset dan akses sehingga mampu menghadapi faktor faktor yang mengakibatkan kerentanan.

Program pemberdayaan ZISWAQ yang kurang memberdayakan, sudah saatnya direvisi dengan pendekatan konsep SLA yang berkelanjutan, karena tujuan utama SLA adalah berpusat pada manusia atau masyarakat bukan pada pelaksanaan program, jadi orientasinya bagaimana masyarakat bisa terperdaya dan selanjutnya dengan selesainya program masyarakat bisa tetap dapat meneruskan program secara mandiri.

Disarikan dari makalah

Oleh ; mustaine

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: