InfOz pLu$

Desember 26, 2007

Menjadi Cahaya Dunia

Filed under: OASIS — beritazakat @ 6:26 am
 
 
Ustadz Hamy, tugas utama kita dalam kehidupan ini adalah dapat membuat anak-anak kita tidak menjadi benalu bagi masyarakat saat dewasa kelak. Alhamdulillah, jika mereka kemudian dapat bermanfaat bagi sesama manusia. Tugas kita ini mendahului semua tugas kita yang lain,” kata Ustadz Abdul Kadir Baraja saat saya sarapan di rumah beliau.
Kalimat lelaki paro baya berwajah teduh itu membuat diri saya tercenung sejenak. Pikiran saya pun segera melayang membayangkan wajah tanpa dosa lima buah hati saya. Sejurus kemudian kelima taman surga saya itu membuat mata saya terasa perih karena harus menahan air mata agar tidak mengalir membasahi pipi. Saya merasa belum banyak berbuat untuk mereka.
Anak-anak adalah benih masa depan. Mencintai mereka berarti mencintai masa depan. Kasih sayang kita untuk mereka adalah kasih sayang kita untuk masa depan. Kepedulian kita terhadap mereka merupakan kepedulian kita terhadap masa depan. Mendidik mereka sekarang adalah investasi masa depan. Menjadikan mereka sebagai penyejuk dunia adalah tugas utama kita. Membuat mereka menjadi pemakmur dunia adalah kewajiban utama kita. Sentuhan cinta kita membuat mereka tidak akan menjadi benalu dunia. Belaian mesra kita akan membuat mereka bermanfaat bagi sesama. Kasih sayang kita akan membuat mereka menjadi cahaya dunia.
Hal itulah yang menyebabkan -sepeninggal Rasulullah saw.- para sahabat sempat kebingungan mencari sang presiden, Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Para sahabat tidak menemukan sang presiden di kantor kepresidenannya. Setelah dicari di seluruh penjuru kota Mekkah, Umar bin Khattab mendapati sang presiden sedang berdagang di pasar. Kontan Umar pun berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, mengapakah engkau meninggalkan kantor? Masyarakat sangat membutuhkan kehadiran Anda. ”Sambil tersenyum sang presiden menjawab, ”Saya harus mencari nafkah untuk anak dan istri saya. Kalau saya bisa meninggalkan anak dan istri saya karena kalian, maka saya akan lebih bisa meninggalkan kalian karena mereka.”
Hal itu pula yang menyebabkan ada teman saya yang selalu cuti dari kantornya untuk melakukan i’tikaf di masjid saat anak-anaknya ujian sekolah. Ia sengaja berdiam di masjid, beribadah di masjid, dan melantunkan doa di masjid untuk ketiga buah hatinya yang sedang ujian di sekolah. Sementara itu teman saya yang lain setiap 10 hari terakhir Ramadhan mengajak belahan jiwa dan tiga buah cintanya untuk i’tikaf di rumah Dzat Yang Maha Pencinta. Di dalam rumah suci itu mereka melakukan sujud dengan penuh cinta. Di depan Multazam mereka melantunkan doa cinta. Di depan Maqam Ibrahim, mereka meneteskan air mata cinta. Semuanya dilakukannya untuk membuat ketiga buah cintanya menjadi pelita dunia.
Abu Bakar Ash Shiddiq ra dan kedua teman saya tersebut mengerti benar bahwa mereka bukan hanya harus sujud menghamba kepada-Nya di sepertiga malam terakhir, namun mereka juga harus berupaya memiliki belahan jiwa dan buah cinta yang setara bahkan lebih baik level spiritualitasnya dibanding mereka.
Sehingga penglihatan mereka menjadi sejuk, hati mereka menjadi tenang, dan jiwa mereka menjadi tentram sebagaimana firman-Nya, ”Dan (kekasih-kekasih Ar Rahman) adalah orang-orang yang berkata, ’Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al Furqan 74).
Hal ini adalah fitrah keimanan yang benar. Ia merupakan keinginan yang kuat untuk menambah bilangan orang-orang yang berarti bagi sesama. Ia merupakan kemauan yang besar untuk menambah bilangan orang-orang yang dapat menjadi cahaya dunia. Ia merupakan hasrat yang mulia untuk menambah bilangan orang-orang yang dapat menjadi penyejuk dan pemakmur dunia.
Yang pertama dari bilangan orang-orang tersebut adalah belahan jiwa dan buah cinta kita. Karena mereka adalah orang-orang yang terdekat dengan kita, dan mereka itu adalah amanah yang paling dahulu akan ditanyakan kepada kita di yaumul hisab kelak. Semoga Allah swt. berkenan mengumpulkan kita dengan belahan jiwa dan buah cinta kita masing-masing di surga-Nya kelak sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita dengan mereka di dunia yang fana ini.{}

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: