InfOz pLu$

November 11, 2007

Menjaring Potensi Zakat untuk Kesejahteraan Umat

Filed under: ARTIKEL — beritazakat @ 9:07 am

Zakat sebaiknya dipungut negara, atau lembaga yang diberi mandat pemerintah untuk mengelolanya.

”Rasulullah SAW hanya satu kali berhaji dalam hidupnya dan hanya tiga kali umrah. Walau sesungguhnya beliau mampu untuk melakukannya berulangkali, tapi tidak dilakukannya. Mengapa, Karena Rasulullah SAW lebih mengutamakan kepentingan umat ketimbang kepentingan pribadinya,”kata Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Musthafa Ya’kub.

Harta yang dimiliki Rasulullah SAW, lebih banyak digunakan untuk membiayai perang, membantu anak-anak yatim dan para janda yang suaminya syahid dalam perang. Harta Rasulullah SAW waktu itu juga digunakan untuk membaiayai keperluan para mahasiswa yang belajar dan tinggal di Masjid Nabawi di Madinah. ”Jadi, mestinya kita harus lebih mendahulukan kepentingan umat dari pada kepentingan pribadi kita dengan mengeluarkan zakat karena bisa mensejahterakan umat,” tutur Ali pada Konferensi Zakat Asia Tenggara II di Padang, Sumatera Barat yang berlangsung 30 Oktober hingga 3 November lalu.

Ali Ya’kub mengaku prihatin dengan kondisi umat Islam Indonesia yang dalam kenyataannya bertolak belakang dengan perilaku Rasulullah SAW. ”Sekarang ini orang lebih suka berhaji maupun umrah ke Tanah Suci berkali-kali, ketimbang memberikan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan. Mereka lebih suka umrah di bulan Ramadhan daripada memberi makan orang miskin dan anak yatim,”katanya.

Menurut pakar hadits ini, Ramadhan lalu tak kurang dari 5000 umat Islam Indonesia yang menunaikan ibadah umrah. Tapi giliran membayar zakat, mereka sering berkelit. ”Padahal, dari dana zakat itu bisa digunakan untuk membangun lembaga pendidikan yang baik, membangun sarana kesehatan, serta membantu modal usaha bagi orang-orang kurang mampu,” tuturnya.

Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Didin Hafidhuddin juga mengungkapan pendapat yang sama. Menurutnya, dana zakat yang dihimpun dari orang kaya, pasti akan bermanfaat bagi orang miskin. Agar bisa terhimpun dengan optimal, dana zakat yang diperkirakan potensinya mencapai Rp 19,3 triliun dari umat Islam Indonesia ini, dikelola oleh sebuah lembaga zakat yang kuat. Di zaman Nabi Muhammad selalu ada petugas zakat. Ada Muadz bin Jabal, ada Ibn Taibah, ada Ali bin Abi Thalib serta sahabat-sahabat lainnya. Mereka menjadi petugas pengelola zakat, menerima zakat dari para muzakki atau menjemputnya kemudian disimpan di Baitulmaal, lalu diserahkan kembali kepada mustahik yang berhak menerimanya.

Sehingga, saat itu pengelolaan zakat terkontrol dengan baik karena ada petugas pengelola zakatnya. Dana zakat harus dikelola oleh lembaga badan amil zakat yang amanah, transparan, profesional dan dipercaya masyarakat maupun pemerintah. Satu-satunya ibadah yang secara eksplisit diungkapkan dalam Alquran ada petugasnya adalah zakat. Seperti pada surat at-Taubah (9) ayat 60 dan 103. Zakat bukanlah urusan pribadi semata, bukan urusan muzakki (orang yang memberi) dengan mustahik (yang menerima zakat). ”Kalau zakat selalu diberikan langsung oleh muzakki kepada mustahik, saya yakin tidak akan menyelesaikan masalah. Paling-paling hanya sebatas sementara yang sifatnya konsumtif,” kata Didin.

Konferensi Dewan Zakat Asia Tenggara tersebut juga merekomendasikan perlunya zakat dikelola setingkat Kementrian atau paling tidak Direktorat Jenderal. Tujuannya, agar penghimpunan zakat lebih optimal, sehingga berbagai masalah yang dihadapi umat sekarang ini bisa teratasi lewat dana zakat.

Rumah Sehat yang dibangun hasil kerja sama Baznas Dompet Dhuafa Republika dengan Masjid Agung Sunda Kelapa yang diresmikan presiden belum lama ini, tidak mungkin bisa dilakukan perorangan. Tapi, karena adanya pengelolaan zakat secara lembaga akhirnya bisa digunakan untuk membangun rumah sehat senilai Rp 5 miliar bagi kaum dhuafa yang ingin memeriksakan kesehatannya. ”Jadi, kalau zakat dikelola secara lembaga manfaatnya akan bisa terasakan oleh orang banyak,” kata Didin.

Hampir di semua negara yang sekarang mengelola zakat dengan baik, seperti Sudan, Kuwait, Arab Saudi, Brunei Darussalam, Singapura dan Malaysia, lembaga amil zakat hanya satu. Sehingga bisa terkoordinasikan dengan baik.

Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Nasaruddin Umar pada konferensi tersebut mengatakan, menurut ajaran Islam, zakat sebaiknya dipungut oleh negara atau lembaga yang diberi mandat oleh negara, dan atas nama pemerintah yang bertindak sebagai wakil fakir miskin untuk memperoleh haknya yang ada pada harta orang-orang kaya. ”Pengelolaan zakat di bawah otoritas badan yang dibentuk negara akan lebih efektif pelaksanaan fungsi dan dampaknya dalam membangun kesejahteraan umat yang menjadi tujuan zakat itu sendiri, dibanding zakat dikumpulkan, didistribusikan oleh banyak lembaga yang berjalan sendiri-sendiri dan tidak ada koordinasi satu sama lain,” kata Nasaruddin.

Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Iskandar Zulkarnaen setuju dengan gagasan tersebut. Negara memiliki sarana dan prasarana. Dengan zakat dikelola negara, maka penghimpunan dana menjadi lebih besar. Saat ini dari sekian banyak lembaga amil zakat yang ada di Indonesia baru terhimpun dana sekitar Rp 800 milyar.”Jadi, zakat itu perlu seperti pajak. Orang harus dipaksa membayar zakat seperti yang dilakukan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Kalau nggak, orang pelit untuk membayar zakat,” tegas Iskandar.

Ia mengusulkan, kalau sampai nantinya kementrian zakat berdiri, para pengelola zakat yang selama ini bekerja keras membangkitkan semangat berzakat di Indonesia, lebih baik yang mengurus zakat secara nasional. ”Saya berharap kalau sampai nanti kementrian zakat berdiri, orang-orang yang mengelola zakat selama ini sebaiknya yang direkrut. Mereka itu sudah tahu betul bagaimana mengelola zakat yang baik,” tegasnya.

‘Zakat Bisa Mengurangi Kemiskinan’

Di sela Konferensi Zakat Asia Tenggara II, Sekjen Dewan Fatwa Syria, Aluddin Zatari berkesempatan hadir dan bercerita soal zakat, serta bagaimana seharusnya bantuan negara kaya diberikan kepada negara miskin. Berikut kutipannya.

Apa pendapat Anda tentang konferensi zakat ini?
Konferensi Zakat ini memberi manfaat yang sangat besar bagi kita untuk menimba berbagai pengalaman pengelola Zakat dari berbagai negara. Termasuk bagaimana pengeloaan zakat di Indonesia, di Malaysia, Syria dan negara lainnya.

Bisakah Zakat mengangkat derajat orang-orang miskin ke tingkat yang lebih mulia?
Tujuan utama dari zakat bukanlah menjadikan orang-orang miskin menjadi orang yang dermawan. Melainkan menjadikan seseorang memiliki kekayaan hati. Rasulullah SAW bersabda: ”Bukanlah kekayaan itu kekayaan harta, melainkan kekayaan hati.”

Mungkinkah dengan dana zakat itu kita bisa menghilangkan kemiskinan?
Menghilangkan kemiskinan tidak mungkin. Yang kita bisa lakukan hanyalah meringankan atau mengurangi angka kemiskinan. Dalam prediksi PBB soal pertumbuhan jumlah penduduk di seluruh dunia pada tahun 2010, angka kemiskinan tingkat dunia akan mencapai 60 persen. Semua lembaga internasional terus berupaya untuk menghilangkan angka kemiskinan ini, dan mereka tidak mampu melakukannya.
Sayangnya, bantuan dari negara-negara kaya kepada negara-negara miskin disertai dengan persyaratan politis. Seperti harus melakukan tindakan begini, ataupun menghilangkan kegiatan yang begini. Padahal zakat yang diberikan dari orang kaya kepada orang miskin tanpa ada syarat sedikitpun.
Karena itu, kita mengusulkan dari konferensi ini perlunya taushiyah atau semacam rekomendasi secara internasional, tentang perlunya negara-negara di dunia seluruhnya untuk memperhatikan penggalian zakat. Bagi orang-orang muslim, zakat itu merupakan suatu ibadah. Sedangkan bagi orang-orang non muslim zakat itu merupakan sebuah kegiatan ekonomi yang mampu meringankan beban kaum fakir. Indonesia bisa mejadi penggerak utama untuk menyampiakan rekomendasi yang diputuskan dalam konferensi ini ke PBB menjadi program bersama.
Kita mengetahui apa yang terjadi di belahan lainnya. Kami berharap Pemerintah Indonesia bisa mewakili Konfernsi Zakat Asia Tenggara ini sebagai wakil negara-negara muslim di dunia untuk menyuarakan pentingnya penggalian sumber dana zakat untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin, daripada setiap hari jumlah orang miskin terus mengalami penambahkan.

Kalau begitu mestinya negara-negara kaya dapat menyumbang negara-negara miskin dengan dana zakat?
Memang begitu. Karena ketika negara-negara kaya memberikan bantuan kepada negara-negara miskin dengan dana zakat, bukan untuk tujuan untuk menjadi negara-negara miskin itu menjadi hamba saya negara-negara kaya atau pun menjadi pelayan. Mereka memberi zakat karena memang itu adalah perintah Allah SWT.
Dan ketika kita bicara soal zakat yang dikeluarkan orang kaya dari sakunya, sesungguhnya orang fakir dengan tradisinya langsung akan membelanjakan dana zakat tersebut untuk kebutuhan sehari-harinya kepada orang kaya kembali. Jadi, dana zakat yang diberikan kepada orang miskin akan kembali ke mereka dalam bentuk kegiatan jual beli dan sebagainya. Ini istimewanya zakat. Si pemberi merasa bahagia, si penerima pun merasa bahagia karena tidak ada persyaratan yang melemahkan satu dengan yang lainnya.

(Damanhuri Zuhri )

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: