InfOz pLu$

Agustus 22, 2007

Menimbang SDM LAZ

Filed under: ARTIKEL — beritazakat @ 4:29 am
Tags: ,

copy-of-s3700063.jpg

mustaine

Bank Dunia (IDB) mengeluarkan pernyataan bahwa 49 % dari seluruh penduduk Indonesia hidup dalam kondisi miskin atau berpotensi menjadi miskin. (Media Indonesia. Kamis, 07/12/2006). Kalau dihitung perkepala, artinya ada, 108,78 juta penduduk indonesia hidupnya susah dari kurang lebih 220 juta., 108,78 Juta miskin, itu artinya apa? Memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa, kemiskinan merupakan masalah sosial terbesar yang diahadapi bangsa indonesia mengawali tahun 2007.

Semakin seringnya pemerintah merancang program pengentasan kemiskinan, semakin bertambah angka kemiskinan itu sendiri. artrinya emplementasi dari hasil program sangat jauh dari yang diharapkan. Pemerintah menggembar-gemborkan akan menfasilitasi dan mengembangkan bisnis di sektor riil (menengah kebawah) namun nyatanya malah ada dana macet sekitar 200 triliyun yang terdaftar di Setifikat Bank Indonesia. Itu artinya apa? terdapat dana mandek dengan jumlah 200 triliyun. Siapa yang tanggung jawab. ternyata dunia perbankkan lebih senang meng-genggam– uangnya dari pada mendistribusikan untuk pengembangan bisnis mikro. Siapa yang bikin kebijakan?.

Terus sekarang sebenarnya bagaimana solusi riil untuk mengatasi kemiskinan itu sendiri, dan kenapa dengan gencar-gencarnya organisasi sosial terutama organisasi pengelola zakat menghapus kemiskinan, bukannya angka kemiskinan semakin turun kok malah justru bertambah. Padahal indeks penggalangan dana ziswaq dari waktu kewaktu terus menanjak. Masalahnya ini dimana?

Hal mana yang menjadi penting bagi OPZ untuk ikut berkontribusi dalam menghadapi “the predator “ adalah bagaimaa menciptakan konsep untuk meningkatkan kapasitas perzakatan kedepan, bagaimana kesiapan OPZ dalam menghadapi “era zakat” 2007, bagaimana menciptakan manajemen yang lebih efektif. Untuk mengurangi ledakan ketidaksejahteraan hidup yang merata. Tentu saja akan butuh banyak Sumber Daya Manusia yang kompeten terkait dengan berbagai kebutuhan operasional dan managerial pengentasan kemiskinan.

Dalam dunia kerja profesi sebagai Amil memang hal baru, banyak yang ingin mencobanya, tanpa totalitas mereka hanya maju-mundur, pada akhirnya harus memilih apakah meneruskan profesi barunya atau keluar dengan mencari pekerjaan lain.

Sulitnya mencari orang yang memiliki kapasitas memadai di bidang ZIS terkait dengan operasi dan manajerialnya, serta penguasaan ilmu-ilmu agama terutama masalah maaliah zakat, menjadi masalah yang berbeda yang menyebabkan profesi menjadi Amil jadi unik, maka tidak mengherankan jika saat ini hanya sedikit orang yang bisa ikut bergabung dalam bidang ini. Bila profesi ini tidak dikemas dengan daya tarik yang adekwat dan tingkat kualifikasi untuk angkatan kerja yang potensial dan menarik, maka OPZ hanya akan mendapatkan SDM sisa dengan konsekuensi tidak memiliki kompetensi yang memadai seperti yang diinginkan.

Sampai saat ini, belum ada kreteria yang dapat dijadikan instrument untuk memastikan sebuah lembaga zakat dapat dikatakan profesional atau amatiran. Jika profesionalitas mengacu pada sikap serta derajat pengetahuaan dan keahlian untuk melakukan pekerjaan yang digeluti, maka saat ini perbandingannya adalah 10 banding 1 karena hampir semua OPZ masih dalam tataran peningkatan SDM, dan hanya sedikit dari mereka yang all ready . Dengan berbagai pelatihan dan peningkatan skill yang masih harus dilakukan,tentu saja mengindikasikan adanya kualifikasi dan skill lain yang belum terpenuhi “sampil jalan, sambil belajar, sambil melengkapi“.

UPAYA OPTIMASI SDM

Kebutuhan yang paling mendasar dalam rangka mengisi “era zakat” 2007 adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang ZIS. Kompetensi amil zakat ditunjukkan dari kemampuan, keahlian dan penguasaannya terhadap bidang kerja yang digeluti. Kesiapan SDM OPZ yang profesional dalam menyongsong era zakat 2007 merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi.

Berbagai upaya yang harus dilakukukan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah mengadakan pelatian yang berorientasi pada peningkatan pengetahuan (knowledge),

peningkatan skill dan peningkatan komitmen. Ketiga hal ini secara sistematis dan berkala harus dilakukan terhadap semua SDM di OPZ. Kesadaran penanganan yang serius terhadap SDM akan menghantarkan organisasi mencapai tujuannya, apabila tidak ada penanganan dimungkinkan akan terjadi kemandegan SDM yang mengakibatkan produktivitas menurun sehingga lembaga akan jalan di tempat.

Untuk Pengembangan SDM harus mengunakan strategi yang menyeluruh paling tidak terhadap tiga hal yaitu perencanaan (Planning), penyediaan atau produksi (production) dan pengelolaan (management) Jika ketiga faktor diatas dapat dikuasai oleh SDM OPZ maka dapat dikatakan bahwa sebuah lembaga memiliki kapabilitas sumber daya manusia yang memadai. Artinya program pengembangan SDM sudah dilakukan secara menyeluruh.

Program-program optimalisasi SDM sebagai mana yang penulis sebutkan diatas, pada tataran yang lebih aplikatif bisa dilakukan dengan berbagai pelatian yang mengusung isu kunci diantaranya mengenai; Pengenalan dan penguasaan Manajemen, Penguasaan terhadap Fiqh Zakat, Penguasaan terhadap Konsep Marketing dan Fundraising, komunikasi yang efektif, Penguasaan terhadap Administrasi perkantoran, Penguasaan terhadap manajemen keuangan, Penguasaan terhadap Program.

Ketuju aspek tersebut dimungkinkan akan membantu meningkatkan pengetahuan SDM OPZ, sedangkan untuk peningkatan Skill dapat diaplikasikan dalam program dengan mengungkap skill mengenai; skill sebagai amil zakat, Skill IT, Skill Accounting, Skill sebagai Fundraiser,


Sedangkan untuk meningkatkan komitmen SDM terhadap lembaga baik juga diadakan pelatian pada Kajian ke-Islaman secara berkala, Pembangunan tim-work yang solid, Mengadakan rekreasi secara berkala, Memberikan reward dan punishment secara proporsional, Meningkatan basic-need dan kesejahteraan secara proporsional

Selain melakukan peningkatan pengetahuan, skill dan komitmen sumber daya manusia, hal yang tidak kalah penting adalah penataan SDM itu sendiri. Penataan dan penempatan SDM dapat mengacu dari latar belakang pendidikan , kemampuan, dan pengalaman mereka, bukan asal uji coba taruh dan apabila lain waktu tidak cocok dibuang, butuh kearifan dalam penataan SDM yang sangat komplek ini.

Pengembangan SDM merupakan kebutuhan yang mendasar bagi lembaga sehingga harus menjadi prioritas dalam program-programnya karena hal ini merupakan salah satu kunci sukses utama dalam pencapaian visi, misi dan tujuan lembaga. upaya untuk meningkatkatkan kemampuan profesional, harus terus dilakukan. Profesionalisme seperti inilah yang seharusnya tetap dijaga untuk meneguhkan lembaga.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: