InfOz pLu$

April 15, 2007

Si Pemulung

Filed under: OASIS — beritazakat @ 9:41 am

Hari masih petang, Ani bergegas meninggalkan gubuknya. Dengan keranjang tergantung dipundaknya, dia mempercepat langkah. Jika kalah cepat sampai tempat pembuangan sampah (TPS), artinya tidak makan seharian. Ani tahu betul konsep sebab akibat yang satu ini. Kalaupun bisa datang lebih awal, Ani bisa mendapatkan mainan yang dibuang oleh anak-anak orang kaya yang sudah mulai bosan dengan permainannya. Ani senang sekali jika mendapatkannya.

Hari itu hujan. Belum reda juga. Sudah tiga hari Jakarta diguyur hujan. Dengan berlindung dibalik plastik bekas untuk menutupi kepalanya, Ani terus melangkah, menerjang guyuran air hujan yang nampak berkilauan diterjang cahaya lampu malam. Dalam benaknya terbayang setumpuk kardus bekas dan berbagai botol minuman plastik berbagai ukuran. Dalam diam Ani tersenyum, seakan dia sudah mendapatkannya.

Truk sampah datang jam 06 pagi. Jam 05.30 sudah banyak pemulung berjejer di garda paling depan. Terdapat 300 pemulung di TPS Bekasi yang siap memperebutkan sampah ibukota. banyak dari mereka, jika menjelang pagi tiba, seharusnya mempersiapkan diri berangkat ke sekolah di kelas 4 SD, bukannya menenteng keranjang untuk mengusir rasa lapar.

Terdapat 18 teman ani, yang karena kejamnya kenyataan hidup, memposisikan mereka menjadi miskin, kehilangan haknya mendapatkan pendidikan minimal sampai tingkat SMP. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh orang tua Ani dan orang Tua teman-teman Ani. Mereka juga dilahirkan dari ruang yang beratap kardus 5 kilometer dari TPS, tak banyak yang ditinggalkan dari leluhurnya, hanya pengait kawat dan keranjang sampah. Begitu juga Ani.

Mereka tidak ngerti lagi makna kesenangan hidup, karena memang istilah itu tidak pernah mereka dengar atau rasakan apalagi menjalani. Penderitaan bagi mereka tidak lagi menunjukkan wajah yang menakutkan, karena mereka sudah terbiasa bergumul dengan istilah itu. Mungkin malah bagi mereka penderitaan dan kesenangan adalah istilah yang kabur, karena semuanya serba relatife. Yang pasti, jika mendapatkan lebih banyak barang bekas, mereka tersenyum entah untuk apa atau siapa.

Ani adalah potret kehidupan anak-anak pemulung yang kehilangan haknya menikmati bangku sekolah, hari-harinya dihabiskan untuk membantu orang tuanya memulung demi mempertahankan hidup yang tidak layak disebut kehidupan. Pejabat Pemerintah adalah fihak pertama diakhirat kelak yang dimintai tanggung jawab terkait dengan orang yang dipimpinnya sering merintih, meradang karena kelaparan. Karena Allah sudah memberikan Amanah kepada penjabat untuk mengatur kehidupan orang lain.

Tentu saja tidak ada orang yang menginginkan dilahirkan hanya untuk mengisi sisi kehidupan yang memilukan. Kemiskinan, kemplaratan, hilangnya peluang hidup, hidup dengan tidak layak, semuanya tergantung dari kebijakan ekonomi pemerintah, karena pemulung-pun hidup dalam sebuah negara yang berdaulat. Jika pemerintah mengabaikan masalah ini, semoga saja mereka mati sebagai orang melarat dalam keadaan sendirian ketika ajal merenggutnya.

Mustaine

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: