InfOz pLu$

Mei 8, 2006

CETAK BIRU ZAKAT

Filed under: ARTIKEL — beritazakat @ 2:56 am

بسم الله الرحمن الرحيم

 

CETAK BIRU

PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA[1]
Oleh : Didin Hafidhuddin[2]

 

A.     Tujuan Utama Zakat

Zakat adalah al-Ibadah al-Maaliyah al-Ijtima’iyyah  (العبادة المالية الإجتماعية), ibadah dibidang harta yang memiliki posisi dan kedudukan yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan kesejahteraan umat (dalam pengertian yang luas), baik di bidang pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. Demikian pula zakat bertujuan untuk menumbuhkan etos kerja. Sebagaimana dinyatakan dalam QS. al-Mukminun ayat 1-4.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فيِ صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4). {المؤمنون : 1-4}.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1) (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya (2) Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (3) Dan orang-orang yang menunaikan zakat (4).” (QS. Al-Mukminun: 1-4).

 

Zakat juga bertujuan untuk menumbuhkan etika kerja, dalam pengertian meluruskan dan membersihkan cara-cara malakukan kegiatan usaha dan mendapatkan rizki. Perhatikan sabda Rasulullah Saw.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s : إِنَّ اللهَ لاَيَقْبَلُ صَدَقَة عَنْ غُلُوْلٍ. {رواه مسلم}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shadaqah yang ada unsur tipu daya”. (HR. Muslim)

 

Zakat juga bertujuan untuk mengaktifkan dan mengefektifkan kegiatan dakwah. Seperti tergambar dalam QS. Al-Baqarah ayat 273.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فيِ سَبِيلِ اللهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فيِ الأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ. {البقرة : 273}.

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah: 273).

 

Zakat juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa solidaritas sosial kaum muslimin dan sekaligus menghilangkan kesenjangan sosial. Perhatikan sabda Rasulullah Saw.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s : تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ فيِ تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادُدِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذا اشْتَكَىْ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِر جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. {رواه  البخارى}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Engkau akan melihat orang-orang yang beriman dalam kasih sayang mereka, dalam kecintaan mereka dan dalam keakraban mereka antar sesamanya adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka sakitnya itu akan merembet ke seluruh tubuhnya, sehingga (semua anggota tubuhnya) merasa sakit, dan merasakan demam (karenanya)”. (HR. Bukhari).

 

Dalam sebuah hadits yang lain, disebutkan tentang tugas Muadz bin Jabal ketika diutus ke Yaman,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s : أَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ اِفْتَرَضَ عَلَيْهِمْ فيِ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةٌ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فيِ فُقَرَائِهِمْ.{رواه أبو داود}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Beritahukanlah kepada mereka (penduduk Yaman), bahwasanya Allah SWT mewajibkan bershadaqah (zakat) pada harta mereka  yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka, dan diberikan pada orang-orang fakir diantara mereka (penduduk Yaman).”  (HR. Abu Dawud).

 

B.     Asas Pelaksanaan Pengelolaan Zakat

Karena begitu tingginya tujuan zakat, seperti tersebut di atas, maka satu-satunya pelaksanaan rukun Islam yang disebutkan secara langsung ada petugasnya adalah zakat. Seperti tergambar dalam QS. At-Taubah: 60 dan 103.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفيِ الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفيِ سَبِيْلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ فَرِيْضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. {التوبة : 60}.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60).

قَالَ اللهُ تَعَالَى: خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ. {التوبة : 103}.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

 

Dalam surat at-Taubah ayat 60 tersebut dikemukakan bahwa salah satu golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat) adalah orang-orang yang bertugas mengurus urusan zakat (‘amiliina ‘alaiha). Sedangkan dalam QS. At-Taubah ayat 103 dijelaskan bahwa zakat itu diambil (dijemput) dari orang-orang yang berkewajiban untuk berzakat (muzakki) untuk kemudian diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya (mustahiq). Yang mengambil dan menjemput tersebut adalah para petugas (‘amil). Imam Qurthubi ketika menafsirkan ayat tersebut (at-Taubah: 60) menyatakan bahwa amil itu adalah orang-orang yang ditugaskan (diutus oleh imam atau pemerintah) untuk mengambil, menuliskan, menghitung dan mencatat zakat yang diambilnya dari para muzakki untuk kemudian diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq).

Karena itu, Rasulullah Saw. pernah mempekerjakan seseorang pemuda dari ‘Asad, yang bernama Ibnu Luthaibah, untuk mengurus urusan zakat Bani Sulaim. Pernah pula mengutus Ali bin Abi Thalib ke Yaman untuk menjadi amil zakat. Mu’adz bin Jabal pernah di utus Rasulullah Saw. pergi ke Yaman, di samping bertugas sebagai da’i (menjelaskan ajaran Islam secara umum), juga mempunyai tugas khusus menjadil amil zakat. Demikian pula yang dilakukan oleh para Khulafaurrasyidin sesudahnya, mereka selalu mempunyai petugas khusus yang mengatur masalah zakat, baik pengambilan maupun pendistribusiannya. Diambilnya zakat dari muzakki (orang yang memiliki kewajiban berzakat) melalui amil zakat untuk kemudian disalurkan kepada mustahiq, menunjukkan kewajiban zakat itu disamping bersifat amal karitatif (kedermawanan), tetapi ia juga suatu kewajiban yang juga bersifat otoritatif (ijabari).

Dalam perspektif fiqh ibadah zakat bersifat qadha’i (قَضَائِيْ), yaitu ibadah yang memerlukan penanganan petugas. Karena jika tidak dilaksanakan, maka ada hak orang lain yang secara langsung terambil, yaitu hak para mustahiq. Berbeda dengan ibadah shaum dan shalat yang sering disebut dengan dayyaniy (دَيَّانِيْ), yaitu jika tidak dilaksanakan berdasar kepada Allah SWT, tetapi tidak ada hak orang lain yang terambil.

Dalam sebuah hadits dalam kitab sunan Nasa’i, dikemukakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: مَنْ أَعْطَاهَا أَيْ اَلزَّكَاةَ مُؤْتَجِرًا فَلَهُ أَجْرُهَا وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوْهَا وَشَطْرَ إِبِلِهِ عَزَمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى لاَ يَحِلُّ لآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ. {رواه النسائي}.

“Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa memberikannya (zakat) karena berharap mendapatkan pahala, maka baginya pahala. Dan barangsiapa yang enggan mengeluarkannya, kami akan mengambilnya (zakat), dan setengah untanya, sebagai salah satu ‘uzman (kewajiban yang dibebankan kepada para hama) oleh Allah SWT. Tidak sedikit pun dari harta itu yang halal bagi keluarga Muhammad.” (HR. Nasa’i).

 

Dalam keterangan lain, riwayat Abu Dawud dikemukakan bahwa ketika banyak orang yang mengingkari kewajiban zakat, di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau bersabda:

وَاللهِ! لأُقَتِّلَنَّ مَنْ فَرَّقَ الصَّلاَةَ وَالزَّكَاةَ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ، وَاللهِ! لَوْ مَنَعُوْنِيْ عِقَالاً كَانُوْا يُؤَدُّوْنَهُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلَتْهُمْ عَلَى مَنْعِهِ. {رواه أبو داود}.

“Demi Allah! Saya akan memerangi orang yang memisahkan kewajiban shalat dengan kewajiban zakat. Sesungguhnya zakat itu hak yang terkait dengan harta. Demi Allah! Jika mereka menolah mengeluarkan zakat unta yang biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah Saw., pasti akau akan memerainginya, karena penolakan tersebut.” (HR. Abu Dawud).

 

C.     Pengelolaan Zakat di Indonesia

Pengelolaan zakat di Indonesia, alhamdulillah sudah mulai sebagian dilakukan melalui amil zakat. Walaupun dalam jumlah yang masih terbatas. Kehadiran dan keberadaan undang-undang No. 38/99, salah satu tujuan utamanya untuk mendorong lahirnya lembaga pengelola zakat yang amanah, kuat, dan dipercaya oleh masyarakat.

Dalam Bab II pasal 5 undang-undang tersebut dikemukakan bahwa pengelolaan zakat bertujuan: 1) Meningkatkan pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan tuntunan agama 2) Meningkatkan fungsi dan peran pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial, dan 3) Meningkatkan hasil guna dan daya guna zakat.

Dalam Bab III Undang-undang No. 38 tahun 1999 dikemukakan bahwa organisasi pengelola zakat terdiri dari dua jenis, yaitu Badan Amil Zakat (pasal 6) dan Lembaga Amil Zakat (pasal 7). Selanjutnya pada bab tentang sanksi (Bab VIII) dikemukakan pula bahwa setiap pengelola zakat yang karena kelalaiannya tidak mencatat atau mencatat dengan tidak benar tentang zakat, infaq, shadaqah, hibah, wasiat, warits dan kafarat, sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 8, pasal 12 dan pasal 11 undang-undang tersebut, diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 30. 000.000,- (tiga puluh juta rupiah). Sanksi ini tentu dimaksudkan agar BAZ dan LAZ yang ada di negara kita menjadi pengelola zakat yang kuat, amanah, dan dipercaya oleh masyarakat, sehingga pada akhirnya masyarakat secara sadar dan sengaja akan menyerahkan zakatnya kepada lembaga pengelola zakat.

Di dalam undang-undang tersebut, diungkapkan bahwa lembaga pengelola zakat di Indonesia terdiri dari dua macam, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Badan Amil Zakat dibentuk oleh pemerintah, sedangkan Lembaga Amil Zakat didirikan oleh masyarakat.

Diktum dalam bab ini, menyebabkan tumbuh dan berkembangnya BAZ dan LAZ diberbagai daerah, baik yang sudah mendapatkan pengukuhan dari pemerintah maupun yang belum. Demikian pula di lembaga-lembaga pemerintahan maupaun swasta yang seharusnya menjadi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) banyak berubah menjadi Lembaga Amil Zakat (LAZ).

Kondisi ini tentu perlu mendapatkan perhatian dan pemikiran yang sungguh-sungguh dari seluruh pengelola zakat, agar pelaksanaan zakat lebih efektif, efisien dan lebih berdayaguna.

 

D.     Cetak Biru Zakat Indonesia Kedepan

Berdasarkan pada petunjuk syari’ah dan contoh pelaksanaan di zaman Nabi Saw. dan para sahabatnya serta realitas pengelolaan zakat Indonesia, maka dalam Musyawarah Nasional Forum Zakat (Munas FOZ) ini diusulkan penyusunan cetak biru zakat Indonesia atau arsitektur perzakatan di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

Pertama, Lima Tahun Pertama (2006-2011)

a)     Sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengeluarkan zakat melalui amil zakat. Sosialisasi ini dilakukan secara terus-menerus oleh seluruh badan dan amil zakat melalui kerjasama dengan semua organisasi umat, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi Islam, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sosialisasi ini dilakukan melalui televisi, surat kabar, majalah, radio, medium khutbah Jum’ah, majelis ta’lim, bahkan melalui kurikulum lokal (kurlok), bersama dengan ekonomi syari’ah.

b)     Sosialisasi ini mutlak harus dilakukan secara sinergi antara sesama badan dan amil zakat.

c)      Periode lima tahun ini sekaligus untuk melihat badan dan lembaga amil zakat yang memiliki kesungguhan untuk melakukan kegiatan kerjasama, sinergi dan koordinasi.

d)     Pada periode ini, Forum Zakat (FOZ) diharapkan menjadi ZAKAT WATCH dengan anggotanya adalah Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) seluruh Indonesia.

Kedua, Lima Tahun Kedua (2012-2017)

a)     Menjadikan semua badan dan lembaga amil zakat di Indonesia di bawah koordinasi/di bawah payung dan perwakilan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dengan mengutamakan aspek pendayagunaan. BAZNAS diharapkan menjadi Pusat Perzakatan di Indonesia. Sebagai contoh, ke depan diharapkan DD Republika menjadi DD Republika BAZNAS atau BAZ DKI BAZNAS dan lain-lain.

b)     Untuk mengarah pada point tersebut, sejak dari sekarang diperlukan kegiatan-kegiatan kerjasama, baik yang menyangkut konsep maupun yang menyangkut implementasi.

c)      Pada periode ini, Forum Zakat (FOZ) diharapkan tetap menjadi ZAKAT WATCH dengan anggotanya yang bersifat individual (orang-orang yang memiliki perhatian terhadap masalah zakat). Pendanaannya dilakukan oleh para muzakki maupun sumber dana lainnya.

 

E.     Zakat dan Pajak

Pada periode lima tahun pertama, diharapkan revisi UU. No. 38/99 tentang pengelolaan zakat dan UU. No. 17/2000 tentang pajak sudah memasukkan zakat sebagai pengurang pajak sambil menyelesaikan perangkat-perangkat yang berkaitan dengan hal tersebut.

Dengan penataan pengelolaan zakat yang sinergis dan koordinatif, diharapkan upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, dapat berlangsung dengan baik, walaupun dilakukan secara bertahap.

والله أعلم بالصواب




[1] Disampaikan pada Musyawarah Nasional Forum Zakat (FOZ), Jakarta 15 Rabiul Awwal 1427 H/14 April 2006.

[2] Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: