InfOz pLu$

Oktober 4, 2005

KETERHINAAN SEDEKAH

Filed under: ARTIKEL — beritazakat @ 3:32 am

ERI SUDEWO
TAK PRESTIS
Di sebagian masyarakat, boleh jadi istilah sedekah tak lagi terhormat. Terutama di kalangan elit tertentu, menyebutnya saja seolah begitu aib.

TAK PRESTIS
Di sebagian masyarakat, boleh jadi istilah sedekah tak lagi terhormat. Terutama di kalangan elit tertentu, menyebutnya saja seolah begitu aib. Sedekah cuma diartikan tak lebih dari sekadar uang receh, kekumuhan dan kemelaratan. Agak mustahil dalam pertemuan sesama rekan sejawat itu, tiba-tiba muncul kata sedekah. Begitu terlanjur menyebut sedekah, kata itu segera raib lagi. Tak ada yang menyambut, sebab memang bukan di situ tempat kata sedekah. Jikapun ada, “Biar supir atau pembantu saya saja yang urus sedekah itu”, kata yang menyambut.

Sebuah jawaban taktis, namun maknanya bisa ganda. Pertama kata sedekah dikaitkan dengan supir dan pembantu. Ini bukan cuma sekadar spontan. Kaitannya harus dilihat jauh ke belakang. Ada perjalanan sekian lama yang akhirnya membentuk opini, bahwa kehidupan sedekah berada di masyarakat bawah dan hanya sekadarnya saja. Kedua dengan sikap itu, kalangan ini telah membedakan sikap dan gaya hidup dengan supir dan pembantunya. Perbedaan ini bisa ditegaskan dengan amat sadar, bahwa kehidupan majikan memang berbeda dengan pembantunya. Atau perbedaan tersebut terbentuk tanpa disadari, mengalir begitu saja karena toh di masyarakat sedekah memang terlanjur terlampau biasa sekali.

Dalam soal sedekah menyedekah ini, mereka memahfumi dengan jargon dan istilah tersendiri. Mereka lebih akrab menyebut sedekah sebagai dana hibah. Jika kaitannya dengan luar negeri, dana hibah itu disebut grant. Bagi mereka grant amat beda dengan sedekah. Grant jumlahnya bisa milyaran bahkan puluhan dan ratusan milyar. Sedang sedekah cukup seribu atau dua ribuan rupiah. Maka cukup supir yang mengurusnya. Dana hibah atau grant, tampaknya lebih punya kekuatan. Ada makna yang terbangun di balik hadirnya dana tersebut. Karena dari luar negeri, setidaknya tentu ada hubungan baik dengan pemberi. Di samping calon penerima juga harus punya program yang menarik hati calon pemberi, serta harus dikemas secantik mungkin. Jika program tak menarik, hubungan baik bisa menjadi jembatan. Sebaliknya bila hubungan masih awam, kekuatan program yang akan memperat hubungan.

Jangan lupa sang pemberi ini biasa disebut sebagai donor. Entah donornya merupakan masyarakat, lembaga atau pemerintah. Jika donor merupakan lembaga, biasanya berupa foundation. Jika dari pemerintah, sering disalurkan melalui lembaga resmi yang mereka bentuk. Ada Ausaid singkatan dari Australian Aid. Ada pula Usaid, kependekan dari lembaga United State Aid yang dibentuk oleh pemerintah Amerika. Sedekah diberikan begitu saja tanpa persyaratan ini dan itu. Bagi mereka yang biasa mengelola grant, sedekah tampak teramat mudah hingga tak menantang. Sedang untuk mendatangkan hibah grant, ini bukan pekerjaan mudah. Banyak persyaratan dan tahapan yang harus dilalui. Jika berhasil menggaet grant, programnya bakal terdiskusikan di kalangan donor. Berarti bukankah namanya telah masuk dalam barisan philanthropy dunia. Inilah tantangannya. Inilah bedanya sedekah dengan grant.

SEBAB MUSABAB
Di Indonesia, praktek sedekah memang terlanjur merusak kemulyaan sedekah. Terutama di pulau Jawa, hampir di tiap jalan dijumpai kegiatan meminta sedekah. Bukan hanya di jalan-jalan kecil, di tengah jalan utama pun para peminta sedekah ini tak ragu berdiri. Terkadang hanya menaruh satu meja atau kursi, tetapi banyak juga yang berjajar dengan sekian kursi. Dengan senyum dan membungkuk-bungkuk, ritual pun diperagakan siapapun yang bertugas. Tangan kanan memegang jaring untuk menaruh sedekah, sementara tangan kiri melambai-lambai tanda pengemudi harap melambatkan kendaraan.

Masih di sekitar jalan, juga banyak berkeliaran peminta sedekah. Tradisinya sama tak berubah dari tahun ke tahun. Mereka turun naik kendaraan umum, sambil tak lupa membawa kotak kayu penampung sedekah. Kotak terkunci, sebagai tanda bahwa kotak itu akan dibuka oleh yang mengutus. Terkadang mereka berhenti di perempatan jalan, yang menggilir kendaraan untuk dimintai mengisi kotak itu dengan sedekah. Sementara pengemis yang lain juga tak ketinggalan meminta-minta sedekah. Bersaing dengan para pengemis cilik atau pengamen cilik lainnya. Sedang di kampung-kampung, tradisi meminta sedekah adalah mengirim anak-anak santri berkeliling kampung. Terutama dengan anak-anak yatim, sedekah dari warga kampung dapat menghidupi panti atau untuk penyelenggaraan pendidikan.

Tradisi ini terus hidup, yang entah kapan mulai dan berakhirnya. Ada permintaan sedekah yang polos-polos saja. Ada pula meminta sedekah dengan kemasan yang amat menarik. Bahkan ada pula yang mencari sedekah dengan berbohong. Bagaimanapun tradisi sedekah telah menghidupi berbagai pihak, baik para pengemis maupun aktivitas kelembagaan sosial dan pendidikan di Indonesia. Dari sedekah ini, tak terhitung lagi jumlah kehidupan yang bisa terselamatkan. Dari sedekah ini, pasti juga terlahir tokoh-tokoh penting kelak. Tokoh yang tak mengakui, biasanya jumlahnya lebih banyak ketimbang yang mengakui bahwa masa lalunya ditopang sedekah.

Sedekah yang yang berkeliaran di jalan, door to door dan keluar masuk kampung, di luar segala manfaatnya, jadi penyebab terposisinya sedekah jadi hina. Mustahik sebagai pemetik manfaat tak merasa bersalah karena menganggap sedekah merupakan kewajiban orang kaya. Sebagai kewajiban sampai kapanpun sedekah dianggap akan terus mengalir. Bila sedekah yang diterima hari ini habis, besok pasti ada yang memberi lagi. Tinggal bagaimana tingkah mereka mengiba-iba dan memelaskan diri. Semakin menyayat dan mengenaskan, semakin besar sedekah yang akan diterima. Maka di manapun, masyarakat disuguhi berbagai atraksi tingkah menyayat. Beragam kreasi kemiskinan ditontonkan. Dari sekadar hanya menyanyi dengan bertepuk tangan, membalut luka dengan pemerah berceceran, hingga bagian tubuh yang paling cacat sengaja ditonjolkan.

RUNTUHNYA HARKAT
Proses ini terus berlangsung yang tiba-tiba telah berjalan tiga, lima atau sepuluh tahun atau bahkan hidupnya memang dari mengemis. Kebiasaan mengemis telah jadi profesi, yang tak mudah untuk keluar dari pusarannya. Jika bapaknya pengemis, dapat dipastikan isteri dan anak-anaknya juga jadi pengemis. Sebagai pengemis, keluarga ini telah mempertaruhkan harkatnya. Tak ada posisi apapun dari keluarga pengemis di masyarakat. Anak-anak pengemis akan jadi bahan ejekan bagi anak-anak yang lain. Isteri pengemis pun akan jadi gunjingan setiap hari.

Sementara sedikit sekali di antara mustahik yang menjadikan sedekah sebagai modal usaha. Dibanding mengemis, membuat usaha memang lebih sulit, pelik, melelahkan dan penuh resiko. Ada berbagai penyebab sulitnya mengembangkan usaha. Jika ada modal, apakah produknya layak konsumsi. Jika produknya layak konsumsi, apakah banyak yang membeli. Jika produk layak dan pasar tepat, apakah memang kebijakan mendukung keberlangsungan usaha mereka. Tulisan ini bukan untuk menghujat upaya kalangan bawah. Ini sekadar penyadar, bahwa dalam berusaha mereka terbentur-bentur pada berbagai kekurangan. Pengetahuan yang mereka miliki amat sederhana. Hingga kreativitas makanan yang disuguhkan bukan lagi sederhana, melainkan juga amankah dikonsumsi.

Maka jika lebih mudah mendapat uang dengan mengemis, kenapa harus bersusah-susah usaha. Jika wajah penghabisan mengiba-iba bisa mendatang rezeki, bukankah amat bodoh berjualan jika malah tekor. Sehari dua hari rugi tak masalah. Namun sebulan dua bulan apalah daya. Akhirnya mengemis jadi satu alternatif terbaik. Anak yang menenteng koran, mendapat untung bersih Rp 30.000 sehari sudah luar biasa. Tetapi bagi pengemis atau pengamen cilik, uang sejumlah itu bukan perkara sulit. Meski tanpa disadari, penjaja koran ini tengah mengembangkan mental kewirausahaan sejak kecil. Sedang pengemis cilik, telah menyerahkan diri dan masa depan ke masyarakat. Sekarang kecil-kecil sudah jadi beban. Kelak seiring kebutuhan yang makin bertambah, beban itu bisa jadi penyakit sosial. Keluarga miskin adalah keluarga yang kalah. Sejak lahir hingga akhir hayat, kemiskinan tak pernah mau pergi. Terus menjarah, mencabik-cabik dan menghancurkan kehidupan keluarga kalangan bawah.

SALAH PERSEPSI
Sedang di sisi muzaki, tugas utamanya selesai begitu sedekah disalurkan. Berhasil tidaknya penerima sedekah, itu urusan kalangan bawah. Disinilah inti soalnya. Yang satu tak lagi mau tahu untuk apa sedekah itu digunakan. Yang menerima pun merasa aman-aman saja sedekah hanya digunakan untuk konsumsi. Sang pemberi berharap sedekah bisa merubah hidup. Sementara dengan berbagai kendala dan alasan, sang penerima pun akhirnya tak menjadikan sedekah sebagai modal. Sedekah sudah disalurkan, namun mengapa orang miskin semakin bertambah-tambah.

Sedang lembaga sosial seperti lembaga pengelola zakat, juga terbentur pada realitas, bahwa mengemas program produktif bukanlah perkara mudah. Membuat usaha sendiri saja sulit, apalagi membuat usaha untuk kehidupan orang lain. Bukan hanya dipaksa sadar melihat sulitnya etos orang bawah, para pekerja sosial ini pun harus melihat kenyataan bahwa ada faktor lain di seputar kemiskinan. Ada kebijakan pemerintah, ada juga ambisi ekpansi bisnis perusahaan swasta. Ada diamnya masyarakat kaya, ada juga kelemahan struktural orang-orang miskin. Ada bencana alam yang memiskinkan Aceh secara massal, namun ada juga konflik yang memfakirkan penduduk di Poso.

Sedekah bagai menyiram api dengan bensin. Alih-alih kemiskinan menyusut, malah menyulut tetangga yang jadi peminta-minta. Pengemis bukannya berkurang, kini malah tak ada lagi perempatan jalan tanpa pengemis. Begitu anak jalanan diurus, berbondong-bondong anak-anak keluarga miskin turut mendiami rumah-rumah singgah. Begitu pengamen cilik mendapat sedekah, teman-teman mainnya pun turut terjun menemani atau jadi pengamen beneran. Program transmigrasi sebagai salah satu cara mengatasi kemiskinan, kini terbengkalai hingga terplesetkan jadi pemerataan kemiskinan. Transmigran yang sukses pun menyulut kecemburuan warga daerah.

Pemerintah yang harusnya bertanggung jawab pada rakyat, malah menaikkan harga BBM. Dalam perkaran BBM ini, pemerintah jelas menempatkan rakyat sebagai pembeli. Untuk mengambil hati, pemerintah memberi subsidi. Padahal mengurus rakyat bawah adalah tanggung jawab sosial. Sementara subsidi merupakan kegiatan sosial. Berarti pemerintah tak paham beda antara tanggung jawab sosial dan kegiatan sosial. Tak paham makna itu jadi cermin, bahwa banyak pejabat tak mengerti tugas kenegaraan. Tugas negara adalah menjamin kehidupan bagi rakyatnya. Bukan malah mempersulit, menjual berbagai asset negara seperti BUMN dan sumber daya alam.

Sedekah jadi terhina karena salah persepsi juga. Dalam pengertian umum, sedekah hanya diartikan materi saja. Padahal seperti yang Rasulullah saw pesankan: berbuat baik dan mencegah dari perbuatan maksiat adalah juga sedekah. Artinya ada sedekah non materi. Merumus kebijakan jelas sedekah. Jika kebijakan pemerintah tidak menyulitkan rakyat, itu adalah sedekah luar biasa para petinggi negara. Sebaliknya menyulitkan hidup rakyat itu perbuatan dzalim. Dengan dalih apapun, pemerintah telah maksiat pada rakyat yang harusnya dilindungi.

Sedekah kebijakan tentu istilah baru yang asing. Sebab dalam kehidupan sebagian masyarakat, istilah sedekah memang tidak punya makna prestis. Bila yang asing dan tak paham dengan makna sedekah ini duduk sebagai petinggi negara, kedudukan sedekah memang tidak akan pernah beringsut. Mereka yang sedari awal telah asing dengan istilah sedekah, tentu makin asing dengan istilah sedekah kebijakan. Bicara kebijakan negara, selama ini terkait dengan dana hibah, grant atau loan. Maka ada IMF dan World Bank, ada globalisasi serta pasar bebas. Dalam konteks kebijakan makro begini, istilah sedekah tentu sesuatu yang amat asing.

Grant hidup dalam suasana penuh prestise di tingkat-tingkat tinggi kenegaraan. Sedekah hidup di pinggir-pinggir jalan, di kampung dan di anak-anak yatim. Grant dihibahkan kepada negara miskin, terutama kepada negara yang terjerat utang. Sedang sedekah telah menghidupi rakyat bawah. Grant diajarkan di perguruan tinggi elit sebagai hadiah untuk negara-negara yang terjerat utang. Sedekah dilantunkan olah para ustadz di berbagai pengajian sebagai ajaran moral saja. Sosok grant dikemas sedemikian rupa seolah jadi penyelamat, sedang sedekah seolah cuma recehan tanpa makna. Maka grant menjadi demikian terhormat di kalangan petinggi negara, sementara entah, barangkali petinggi yang ber-grant-grant itu hanya menyalurkan sedekah melalui supir dan pembantunya. Sedekah yang demikian mulya dalam Islam, justru runtuh di tangan para petinggi yang muslim.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: