InfOz pLu$

April 11, 2008

Keistimewaan Zakat

Diarsipkan di bawah: OASIS — beritazakat @ 6:19 am

Oleh : Tri Handoyo

”Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan, Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS Attaubah [9]: 11).

Jika shalat merupakan sarana mutlak kemaslahatan individu, zakat pun merupakan sarana mutlak kemaslahatan umat. Itu sebabnya perintah zakat selalu digandengkan dengan perintah shalat dalam Alquran. Karena, sesungguhnya Allah SWT menghendaki individu dan umat yang saleh. Zakat merupakan rukun Islam ketiga (DR Yusuf Al-Qaradhawi), yang berarti lebih utama dari ibadah puasa Ramadhan dan berhaji. Perintah berzakat tak kurang dari tiga puluh kali disebutkan dalam Alquran. Dan, hukumnya adalah wajib (mengikat), bukan sunah (sukarela), seperti infak dan sedekah.

Keistimewaan utama zakat sekaligus pembeda dari infak dan sedekah, terletak pada ‘ketentuan-ketentuannya’ (nisab, besaran, syarat, waktu, dan cara pembayaran), serta kemampuan ‘memaksanya’ (yang merupakan perwujudan dari hukum wajibnya). Keistimewaan ini menjadikan dana zakat memiliki dua karakter penting. Yang pertama adalah ‘jelas sumbernya’ (sehingga dapat diprediksikan jumlahnya). Yang kedua adalah ’stabil jumlahnya’ (berfluktuasi kecil dan normal).

Kedua karakter di atas sangat dibutuhkan untuk mendanai kegiatan-kegiatan yang bersifat annual (membutuhkan dana yang stabil) serta kegiatan-kegiatan yang visioner (membutuhkan perencanaan matang). Yang tentunya, tidak keluar dari ketentuan asnaf yang delapan itu (fakir, miskin, amil, gharimin, mualaf, memerdekakan budak, fisabilillah, dan musafir).

Tanpa dana yang jelas sumbernya dan stabil jumlahnya tersebut, tentunya akan sulit bahkan mustahil bagi kita untuk menyantuni secara teratur dan kontinu para fakir, miskin, mualaf, fisabilillah (termasuk membiayai pendidikan anak-anak muslim tak mampu), dan lain sebagainya. Bahkan, sekadar membuat rencana pemberdayaan umat pun, kita akan mengalami kesulitan.

Karena itu, jika kemampuan memaksa zakat dihilangkan (tidak ditopang oleh perangkat hukum), akan hilang pulalah keistimewaan dari zakat itu sendiri. Yang berarti, umat akan selamanya dalam keadaan cacat, tidak bervisi, dan tak akan pernah mampu untuk berdiri sendiri.

”Demi Allah, saya akan memerangi siapa pun yang membeda-bedakan zakat dari shalat.” (Khalifah Abu Bakar RA).

Januari 24, 2008

FILOSOFI DIBELAKANG PERINTAH ZAKAT , INFAQ DAN SHADAQAH

Diarsipkan di bawah: OASIS — beritazakat @ 5:11 am
Written by PROF. DR. HA. AHMAD SYAFII MAARI
Image

Pendahuluan

ISLAM adalah agama yang punya kepedulian yang sangat tinggi, sekalipun umatnya sering ‎benar menyimpang dari prinsip ini. Dalam kajian saya menemukan bahwa Islam sangat ‎pro dengan orang miskin tetapi pada waktu yang sama bersikap anti kemiskinan. ‎Tampaknya kesimpulan yang semacam ini seperti mengandung sebuah paradoks, ‎sebenarnya tidak begitu. Mengapa? Karena dalam Al-Quran tidak ada perintah agar orang ‎menerima zakat , infaq dan shadaqah. Justru yang diperintahkan adalah agar orang ‎mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah. Artinya orang miskin haruslah bersifat ‎sementara, mereka tidak boleh dan tidak layak berlama-lama berkubang dalam ‎kemiskinan, kelemahan, dan hidup dibawah belas kasihan orang lain. ‎

Oleh sebab itu kemiskinan haruslah dihalau sampai ke batas-batas yang jauh, sehingga ‎manusia meraih kemerdekaan dan martabat sejati sesuai dengan posisinya sebagai ‎khalifah Allah dimuka bumi.  Namun sepanjang sejarah umat manusia, kemiskinan ‎adalah suatu realitas, maka masalah zakat, infaq dan shadaqah akan tetap relevan untuk ‎dikaji, agar lebih berdaya guna, sebagaimana yang akan kita telusuri lebih jauh.‎

Al-Quran Tentang Zakat, Infaq Dan Shadah
Disamping shalat yang tersebut sebanyak 95 kali dalam Al-Quran, semetara zakat, infaq ‎dan shadaqah masing-masing terdapat sebanyak 32, 76 dan 14 kali. Kewajiban shalat dan ‎zakat, baik dalam bentuk perintah maupun dalam kalimat afirmatif, pada 26 ayat ‎disebutkan dalam satu tarikan nafas. Shadaqah dalam makna zakat kita jumpai dalam ‎ayat :60, 103 dan 104, semuanya dalam surat At-Taubah. Dengan demikian, perintah ‎zakat, infaq dan shadaqah punya landasan yang sangat kuat dalam Al-Qur’an, belum lagi ‎dalam sunnah nabi yang jumlahnya banyak sekali. Persoalan yang terpampang didepan ‎kita adalah kenyataan bahwa diktum tentnang harta yang mempunyai fungsi sosial itu ‎masih kurang sekali dihiraukan oleh umat islam sepanjang masa. Maka tidaklah ‎mengherankan ada diantara mereka berpaling kepada maxisme sebagai solusi untuk ‎mempersempit jurang sosial-ekonomi yang menganga. Teori–teori radikal tentang ‎keadilan dan kemiskinan tidak begitu berkembang dikalangan pemikir muslim, padahal ‎al-Quran telah menyediakan landasan telogis yang berjibun.‎
Coba kita ikuti sebentar ayat 103 surat Al-Taubah yang maknanya adalah: “ Ambillah ‎zakat (shadaqah) dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan ‎berdoalah [hai Muhammad] untuk mereka. Sesungguhnya do’amu itu ‎memberikenyamanan (sakanun) bagi mereka. Dan Allah maha Mendengar, maha ‎Mengetahui.” Perintah “ambillah” (khudz) dalam ayat ini mengisyaratkan pemerintah ‎dapat saja memaksa orang yang sudah wajib berzakat untuk mengeluarkan zakatnya, ‎sesuai dengan ketentuan agama. Dalam tafsir disebutkan bahwa ayat ini sebenarnya ‎berkaitan dengan orang yang telah mengakui kesalahan dan dosanya, maka dengan ‎berzakat dosa dan kesalahan itu akan dapat dibersihkan. Bahkan mereka dapat meraih ‎martabat orang-orang ikhlas yang syarat dengan kebajikan (hatta yartafi’u biha ila ‎maratib al-mukhlishin al-abrar).‎ ‎ Dengan demikian pendosa yang sadar akan ‎kesalahannya, lalu bertaubat dan mengeluarkan zakat, maka Allah akan mengampuni ‎dosa dan kesalahannya itu. Ayat 104 lebih menegaskan masalah ini :” Alam ya’lamu ‎anna Allah huwa yaqbalu al-taubata ‘an ‘ibadihi wa yakkhudzu al-shadaqati wa anna ‎Allah huwa al-tawwabu al-rahiim.”‎
Perintah shalat yang bergandengan dengan perintah zakat, a.l kita kutip : “Faaqimu al-‎shalata waatu al-zakata wa’tashimu bi Allahi huwa maulakum”.‎ ‎ Ada pesan al-Quran ‎tentang shalat dan zakat kepada kelompok yang sudah mapan, kita kutip artinya: “Orang-‎orang yang telah kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, membayar ‎zakat dan meyuruh berbuat baik dan mencegah kemunkaran. Dan kepada Allah-lah ‎kembali segala urusan.”‎ ‎ Tujuan berzakat, berinfaq dan bershadaqah, semata-mata untuk ‎kepentingan yang bersangkutan, bukan untuk Allah, sebab Allah itu Maha Kaya, tidak ‎memerlukan apa pun dari makhluk ciptaannya. Allah sangat tahu bahwa manusia itu ‎egois, oleh sebab itu semua amal yang dikerjakannya semata-mata untuk kepentingan ‎dirinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.‎
Ayat tentang infaq dibawah ini menjalaskan pertambahan rezki yang diberikan Allah ‎kepada para dermawan yang artinya : “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya ‎dijalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangki, pada setiap ‎tangki terdapat 100 biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan ‎Allah Mala Luas, Maha Mengetahui.”‎ ‎ Dalam sebuah hadist riwayat muslim dikatakan : ‎‎“Ma min yaumin yushbihu al-‘ibadu fihi illa al-malakani yanzilani, fayaqulu ahaduhuma ‎‎: allahumma a’thi munfiqan khalafan, wa yaqulu al-akharu : allahumma a’thi mumsikan ‎talafan”‎ ‎. Talafan artinya “kebinasaan”. Islam memang mengutuk mereka yang kikir-‎kedekut, sekan-akan keringat orang lain tidak berperan bagi penambahan kekayaannnya. ‎Banyak contoh, seorang pembantu di rumah orang kaya, misalnya, tidak jarang diberi ‎upah yang tidak seimbang dengan tenaga dan waktu yang ia berikan. Sebagai manusia tak ‎berdaya, hidupnya senantiasa dirundung penderitaan dan ketidakberdayaan ditengah-‎tengah sebuah keluarga kaya tetapi tuna-kemanusiaan.‎
Ancaman yang dramatis ditujukan kepada siapa saja yang tidak mau berinfaq dijalan ‎Allah, lagi-lagi kita baca dalam surat al-Taubat, yang artinya :” … dan orang–orang yang ‎menyimpan emas dan perak dan tidak mengeluarkan infaq di jalan Allah, maka ‎beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih. [Yaitu] pada hari yang dipanggang ‎‎[harta-harta] itu atas neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan ‎punggung mereka [seraya dikatakan] kepadamereka : itulah harta bendamu yang kamu ‎timbun untuk dirimu sendiri; lantara itu rasakan [akibat] dari apa yang kamu timbun itu”.‎ ‎ ‎Memang ngeri ancama ini, tetapi jangan mengakibatkan kita takut menjadi kaya, sebab ‎kekayaan itu menurut Al-Quran adalah karunia Allah (min fadhli Allah) yang harus kita ‎cari. “apabila shalat [jum’at] telah dirampungkan, maka bertebaranklah kamu dimuka ‎bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu ‎beruntung.”‎
Mengingat Allah disini agar kita tidak lupa daratan, tidak lupa lautan, harta yang dicari ‎sebagai sarana untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna. Ada dimensi ‎transenden disini dengan prinsip ini, diharapkan seorang beriman tidak akan pernah ‎kehilangan kompas dalam perjalanan hidupnya. Bahagia disini, bahagia disana. Usia ‎manusia sangat terbatas. Mau tidak mau, dunia  ini harus kita tinggalkan, lambat atau ‎cepat. Tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangi tangan Ghaib untuk ‎mencabut nyawa kita, siapapun kita, apapun kita. Tetapi kita sering benar alpa dalam ‎perkaran yang sangat pasti ini.‎
Perintah zakat, infaq dan shaqah mengisyaratkan agar umat Islam menjadi manusia kaya ‎dalam sebuah ekuilibrium yang proporsional. Kita jangan sampai tenggelam dalam ‎bianglala kehidupan yang penuh pesona. Hidup yang sekali ini tidak boleh gagal. ‎Bertuturlah Iqbal :” tanda seorang kafir, ia hilang dalam cakrawala; tanda seorang ‎mu’min, cakrawala hilang dalam dirinya”.‎

Penutup
Dengan kesediaan mengeluarkan zakat, memberikan infaq dan shadaqah menurut ‎ukurannya, semotga kita tidak akan hilang dalam cakrawala. Harta yang dimiliki semoga ‎akan memudahkan perjalanan kita menuju Allah SWT. Selamat menjalankan ibadah ‎puasa dalam upaya spiritual untuk meraih posisi taqwa. Amin

Desember 26, 2007

Menjadi Cahaya Dunia

Diarsipkan di bawah: OASIS — beritazakat @ 6:26 am
 
 
Ustadz Hamy, tugas utama kita dalam kehidupan ini adalah dapat membuat anak-anak kita tidak menjadi benalu bagi masyarakat saat dewasa kelak. Alhamdulillah, jika mereka kemudian dapat bermanfaat bagi sesama manusia. Tugas kita ini mendahului semua tugas kita yang lain,” kata Ustadz Abdul Kadir Baraja saat saya sarapan di rumah beliau.
Kalimat lelaki paro baya berwajah teduh itu membuat diri saya tercenung sejenak. Pikiran saya pun segera melayang membayangkan wajah tanpa dosa lima buah hati saya. Sejurus kemudian kelima taman surga saya itu membuat mata saya terasa perih karena harus menahan air mata agar tidak mengalir membasahi pipi. Saya merasa belum banyak berbuat untuk mereka.
Anak-anak adalah benih masa depan. Mencintai mereka berarti mencintai masa depan. Kasih sayang kita untuk mereka adalah kasih sayang kita untuk masa depan. Kepedulian kita terhadap mereka merupakan kepedulian kita terhadap masa depan. Mendidik mereka sekarang adalah investasi masa depan. Menjadikan mereka sebagai penyejuk dunia adalah tugas utama kita. Membuat mereka menjadi pemakmur dunia adalah kewajiban utama kita. Sentuhan cinta kita membuat mereka tidak akan menjadi benalu dunia. Belaian mesra kita akan membuat mereka bermanfaat bagi sesama. Kasih sayang kita akan membuat mereka menjadi cahaya dunia.
Hal itulah yang menyebabkan -sepeninggal Rasulullah saw.- para sahabat sempat kebingungan mencari sang presiden, Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Para sahabat tidak menemukan sang presiden di kantor kepresidenannya. Setelah dicari di seluruh penjuru kota Mekkah, Umar bin Khattab mendapati sang presiden sedang berdagang di pasar. Kontan Umar pun berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, mengapakah engkau meninggalkan kantor? Masyarakat sangat membutuhkan kehadiran Anda. ”Sambil tersenyum sang presiden menjawab, ”Saya harus mencari nafkah untuk anak dan istri saya. Kalau saya bisa meninggalkan anak dan istri saya karena kalian, maka saya akan lebih bisa meninggalkan kalian karena mereka.”
Hal itu pula yang menyebabkan ada teman saya yang selalu cuti dari kantornya untuk melakukan i’tikaf di masjid saat anak-anaknya ujian sekolah. Ia sengaja berdiam di masjid, beribadah di masjid, dan melantunkan doa di masjid untuk ketiga buah hatinya yang sedang ujian di sekolah. Sementara itu teman saya yang lain setiap 10 hari terakhir Ramadhan mengajak belahan jiwa dan tiga buah cintanya untuk i’tikaf di rumah Dzat Yang Maha Pencinta. Di dalam rumah suci itu mereka melakukan sujud dengan penuh cinta. Di depan Multazam mereka melantunkan doa cinta. Di depan Maqam Ibrahim, mereka meneteskan air mata cinta. Semuanya dilakukannya untuk membuat ketiga buah cintanya menjadi pelita dunia.
Abu Bakar Ash Shiddiq ra dan kedua teman saya tersebut mengerti benar bahwa mereka bukan hanya harus sujud menghamba kepada-Nya di sepertiga malam terakhir, namun mereka juga harus berupaya memiliki belahan jiwa dan buah cinta yang setara bahkan lebih baik level spiritualitasnya dibanding mereka.
Sehingga penglihatan mereka menjadi sejuk, hati mereka menjadi tenang, dan jiwa mereka menjadi tentram sebagaimana firman-Nya, ”Dan (kekasih-kekasih Ar Rahman) adalah orang-orang yang berkata, ’Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al Furqan 74).
Hal ini adalah fitrah keimanan yang benar. Ia merupakan keinginan yang kuat untuk menambah bilangan orang-orang yang berarti bagi sesama. Ia merupakan kemauan yang besar untuk menambah bilangan orang-orang yang dapat menjadi cahaya dunia. Ia merupakan hasrat yang mulia untuk menambah bilangan orang-orang yang dapat menjadi penyejuk dan pemakmur dunia.
Yang pertama dari bilangan orang-orang tersebut adalah belahan jiwa dan buah cinta kita. Karena mereka adalah orang-orang yang terdekat dengan kita, dan mereka itu adalah amanah yang paling dahulu akan ditanyakan kepada kita di yaumul hisab kelak. Semoga Allah swt. berkenan mengumpulkan kita dengan belahan jiwa dan buah cinta kita masing-masing di surga-Nya kelak sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita dengan mereka di dunia yang fana ini.{}

November 15, 2007

Gelombang Cinta Di Hari Suci

Diarsipkan di bawah: OASIS — beritazakat @ 3:52 am
 
Oleh : Hamy Wahjunianto Ketua Umum Forum Zakat
     
Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. Terlihat sekali kalau wanita itu berupaya menahan agar air matanya tidak sampai jatuh menetes membasahi pipi. Suara wanita bernama Tatik itu terdengar bergetar saat berkata di acara Talk Show Jelang Buka Puasa Pajajaran TV Bandung, ”Anak adalah harta kita yang paling mahal saat hidup di dunia. Anak presiden, anak gubernur, anak walikota atau anak siapapun pasti akan disekolahkan oleh kedua orang tuanya. Karena itu, setiap orang tua yang menyayangi anaknya seharusnya peduli terhadap kualitas guru dan sekolah anak-anak mereka. Karena itu saya menghimbau gubernur Jawa Barat, walikota Bandung, dan seluruh masyarakat yang mampu untuk mencintai anak-anak mereka dengan jalan meningkatkan kualitas guru dan sekolah di Bandung dan Jawa Barat.”
 
Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. Terlihat sekali kalau wanita itu berupaya menahan agar air matanya tidak sampai jatuh menetes membasahi pipi. Suara wanita bernama Tatik itu terdengar bergetar saat berkata di acara Talk Show Jelang Buka Puasa Pajajaran TV Bandung, ”Anak adalah harta kita yang paling mahal saat hidup di dunia. Anak presiden, anak gubernur, anak walikota atau anak siapapun pasti akan disekolahkan oleh kedua orang tuanya. Karena itu, setiap orang tua yang menyayangi anaknya seharusnya peduli terhadap kualitas guru dan sekolah anak-anak mereka. Karena itu saya menghimbau gubernur Jawa Barat, walikota Bandung, dan seluruh masyarakat yang mampu untuk mencintai anak-anak mereka dengan jalan meningkatkan kualitas guru dan sekolah di Bandung dan Jawa Barat.”Wanita muda yang akrab dipanggil Teh Tatik itu memang berprofesi sebagai guru di Sekolah Miftahul Huda Cikadut Bandung. Selain untaian kalimat indah di atas, hal lain yang membuat dirinya begitu bermakna adalah bahwa semenjak menjadi donatur YDSF 5 bulan yang lalu, Bu guru Tatik ternyata telah mampu menginspirasi 17 guru, karyawan, dan wali murid sekolah Miftahul Huda untuk ikut menjadi donatur YDSF seperti dirinya. Hebatnya lagi, sebagaimana lebih dari 2.000 koordinator donatur yang lain di seluruh kantor YDSF, Teh Tatik melakukannya tanpa pamrih. Tak ada satu orang pun yang meminta dan memfasilitasi dirinya agar menjadi koordinator donatur di sekolah Miftahul Huda tersebut.

Tiada kata yang dapat menjelaskan motivasi Teh Tatik dan lebih dari 2.000 koordinator donatur YDSF saat mengajak orang lain untuk menjadi begitu bermakna bagi sesama kecuali satu kata yakni: cinta! Sebagaimana juga tidak ada kata lain yang dapat menjelaskan sebab seorang ibu mau bersakit-sakit mengandung dan melahirkan anaknya kecuali satu kata yakni: cinta! Demikian pula tiada kata yang dapat menjelaskan penyebab diciptakannya alam semesta oleh Sang Maha Penyayang untuk manusia kecuali satu kata, yakni: cinta!

Cinta yang tak bertepi membuat yang berat menjadi ringan, yang jauh terasa dekat, yang lemah menjadi kuat. Cinta yang tak berujung menjadi sumber energi peduli yang tak pernah berhenti mengalir. Itulah sebabnya gelombang cinta di hari suci selalu terasa begitu indah. Begitu sang Fajar 1 Syawal memendarkan cahaya merahnya, miliaran manusia bergelombang mendatangi tanah lapang atau masjid untuk memuncaki cinta mereka kepada Dzat Yang Maha Pencinta. Miliaran manusia itu berdiri, rukuk, sujud, dan bersimpuh kepada Sang Mahasempurna sebagai ekspresi cinta mereka kepada-Nya. Air mata mereka mengalir membasahi wajah bening mereka saat memohon ampunan dan cinta-Nya.

Sejurus kemudian gelombang cinta itu bergerak menuju rumah masing-masing. Bermula dari ciuman penuh sayang istri di telapak tangan suami yang berbalas dengan ciuman penuh cinta suami di kening istri, episode cinta itupun berlanjut dengan ciuman kasih buah hati di telapak tangan ayah bundanya. Arus cinta itu selanjutnya mengalir ke rumah orang-orang yang mereka cintai. Setiap dari mereka berlomba untuk saling meminta maaf. Setiap dari mereka mendahului untuk saling menebar maaf. Tidak ada kata yang mampu menjelaskan gerak gelombang cinta tersebut kecuali satu kata, yakni cinta! Tidak ada kalimat yang lebih indah untuk dilantunkan saat itu kecuali doa Taqabballahu minna wa minkum. Taqabbal Ya Karim. Minal ’Aidin wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin.{}

Agustus 24, 2007

Cemburu Itu Tanda Cinta

Diarsipkan di bawah: OASIS — beritazakat @ 5:54 am
oLeh : Hamy Wahjunianto Ketua Umum Forum Zakat
 
     
Siang itu salah seorang istri Rasulullah saw. menghadiahkan semangkok roti dicampur kuah kepada beliau. Saat itu, Rasulullah saw. sedang berada di rumah Aisyah ra.
 
Siang itu salah seorang istri Rasulullah saw. menghadiahkan semangkok roti dicampur kuah kepada beliau. Saat itu, Rasulullah saw. sedang berada di rumah Aisyah ra. Tanpa diduga Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkok berisi roti tersebut, sehingga mangkok itu pun jatuh dan pecah. Melihat kejadian itu Rasulullah saw. pun bergegas memunguti roti yang tumpah itu dan meletakkan kembali di atas mangkok seraya berkata, ”Makanlah. Ibu kalian sedang cemburu.”
Suasana hati Aisyah mendadak berubah saat melihat istri Rasulullah saw. yang lain menghadiahi beliau semangkok roti kuah. Kalbu yang penuh dengan rasa rindu itu seperti tersayat sembilu. Jiwanya yang penuh dengan cinta terluka. Rasa cemburu memenuhi kalbu mengusir rindu. Rasa cemburu memenuhi ruang-ruang jiwa menepis cinta. Sebagai manusia biasa, Aisyah tak kuasa membendungnya. Ia tak mampu menahan rasa cemburu yang mengalir deras menerpa jiwanya.
Cemburu yang mendera jiwa adalah fitrah. Cemburu bisa melanda jiwa semua manusia. Ia tak bisa dihilangkan termasuk oleh wanita mulia sekelas Aisyah sekalipun. Cemburu biasanya bermula dari cinta yang membara. Bila dikelola dengan baik, cemburu bisa menyebabkan cinta terus menyala. Cemburu membuat kita dapat merasakan indahnya cinta. Karena cemburu adalah tanda cinta. Cinta sejati selalu membuat pemiliknya tak rela belahan jiwanya bergerak ke lain hati. Demikian pula dengan cinta milik wanita. Bahkan wanita senantiasa menginginkan cinta yang utuh. Wanita selalu mengharapkan cinta tanpa sisa.
Hati Ibunda Sarrah pun pernah didera rasa cemburu. Setelah sekian tahun merajut cinta, Nabi Ibrahim as dan Ibunda Sarrah tak kunjung dikaruniai buah hati. Karena itu Ibunda Sarrah meminta sang belahan hati untuk melabuhkan bahtera cintanya pada jiwa dan raga Hajar, budak setia mereka berdua. Namun saat Hajar melahirkan buah cinta untuk Nabi Ibrahim, rasa cemburu menyeruak masuk ke dalam hati Ibunda Sarrah. Sehingga walau ia yang menghadiahkan Hajar untuk sang suami tercinta, Sarrah tak kuasa membendung rasa cemburu yang menerpa jiwanya. Sarrah tak rela Nabi Ibrahim as. berbagi cinta di hadapan jiwanya. Karenanya Nabi Ibrahim as kemudian memindahkan Hajar ke Mekkah.
Hati dan jiwa lelaki pun tak suci dari rasa cemburu. Bahkan rasa cemburu adalah ciri cinta milik pria sejati. Lelaki sejati akan senantiasa memendarkan cahaya cinta yang menerangi pelabuhan cintanya hingga tak akan pernah menerima bahtera cinta yang lain. Ia akan selalu menjadi sandaran hati sang istri hingga tidak akan pernah ada sisa cinta untuk laki-laki yang lain. Karenanya, rasa cemburu akan segera memenuhi relung-relung hatinya saat ia merasa ada yang mengusik belahan jiwanya.
Rasa cemburu yang menderu itulah yang menyebabkan Umar bin Khatthab ra tak berkenan istrinya shalat berjamaah di masjid. Hatinya tak kuasa melihat lelaki lain memandang wanita yang dicintainya itu. Melihat wajah masam sang suami, istri mulia itu pun berkata, ”Kalau memang engkau tak berkenan aku shalat berjamaah di masjid, aku tidak akan melakukannya lagi.” Namun Umar terdiam seribu bahasa karena ia mengetahui bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba Allah yang wanita untuk mendatangi masjid-masjid Allah.”
Mengingat rasa cemburu adalah salah satu tabiat kemanusiaan kita, ia tidak akan bisa dihilangkan. Kita tak mungkin menghapusnya dari dalam hati kita. Dengan demikian kita harus mengelolanya. Kita harus menjadikan rasa cemburu itu menyebabkan cinta kita kepada belahan hati kita terus membara. Rasa cemburu itu harus mampu membuat kita merasakan indahnya bercinta dengan kekasih kita. Belahan hati kita harus mengerti bahwa kecemburuan kita padanya adalah bukti cinta sejati kita kepada dirinya.{}

Juni 4, 2007

INFAK MENJAUHKAN DIRI DARI NERAKA

Diarsipkan di bawah: OASIS — beritazakat @ 3:22 am


Apa balasan bagi orang yang kikir? Di dunia mungkin ia akan hidup terisolasi dari manusia lain, sementara di akhirat ia pasti akan merugi. Sebuah kisah inspiratif dari adegan hidup Rasulullah Saw mungkin memberikan ibrah berarti.

Apa balasan bagi orang yang kikir? Di dunia mungkin ia akan hidup terisolasi dari manusia lain, sementara di akhirat ia pasti akan merugi. Sebuah kisah inspiratif dari adegan hidup Rasulullah Saw mungkin memberikan ibrah berarti.

Tersebutlah seorang wanita yang datang menemui Rasul Muhammad Saw. Wanita tersebut datang tergesa. Semburat perih terpancar dari wajahnya. Berjalan dengan menunduk, sementara satu tangannya dimasukkan ke dalam saku gamisnya.

Usai berucap salam kepada Rasul Saw, wanita ini mengaku sebagai seorang anak yang telah ditinggal mati kedua orang tuanya. Ia menahan rasa sakit yang amat sangat. Rasul mulia memperhatikan. Tak sabar beliau bertanya, “Apa yang terjadi terhadap tangan yang kau sembunyikan, wahai wanita?”
Perempuan itu pun mengeluarkan tangannya sambil memelas, “Selamatkan aku wahai baginda!”

Rasul terperangah saat memandang sepotong tangan yang rusak terbakar. Kulit terkelupas, sementara daging terkuak menyemburatkan bau anyir yang tidak sedap. Rasul Saw tak kuasa menahan diri untuk tidak bertanya, “Apa yang terjadi pada tanganmu ini?”

Wanita itupun memulai cerita. Malam tadi ia bermimpi. Sebuah mimpi yang amat seram. Ia berdiri di tengah neraka. Terlihat di sana banyak manusia yang sedang disiksa dan berteriak histeris. Hatinya menjadi kalut dan panik saat melihat pemandangan yang begitu menyeramkan. Hampir ia turut berteriak….

Sejurus kemudian kelebatan matanya tertumpu pada sesosok manusia yang turut disiksa. Ia kenal manusia itu, yang tiada lain adalah wanita yang telah melahirkannya di dunia. Ibunya ketika itu dalam kondisi kalut. Kobaran api tinggi berwarna biru mencoba menerkam dan menjilati tubuh. Namun rupanya ia masih memiliki 2 alat sebagai penangkal hingga kobaran api neraka tidak bisa melahapnya. Kedua alat yang ia miliki itu adalah sepotong keju dan secercah kain. Pemandangan yang mengherankan.

Sambil berteriak, sang anak bertanya kepada ibu, “Ibu…. apa gerangan yang membuatmu tersiksa seperti ini. Bukankah engkau adalah wanita yang baik ketika di dunia dan berbakti kepada ayah?” Masih dalam kondisi kalut, si ibu berujar, “Aku tersiksa begini sebab aku selalu bakhil ketika hidup. Hanya dua benda ini saja, -ia menunjuk kepada keju dan kain yang ada di tangannya-,yang bisa menyelamatkan aku. Sudah jangan banyak bicara…. carilah jalan untuk menolongku, nak….!”

Kepanikan ibu menjalar ke hati anaknya. Anak itu pun berlari hendak mencari pertolongan. “Oh iya…. Ayah!” ujarnya dalam hati. Ia pun pergi berlari kencang hendak mencari ayahnya demi minta pertolongan.
Kesegenap penjuru mata angin ia mencari ayahnya. Terakhir, ia pun menjumpai ayahnya yang sedang hidup dalam kenikmatan surga. Bagai seorang raja, ayahnya diberi banyak kenikmatan oleh Allah Ta’ala.
Dengan nafas tersengal sang anak berujar, “Ayah….! Kok bisa-bisanya sih ayah hidup enak di sini sementara ibu tengah menyabung nyawa menghadapi api neraka. Mengapa ayah tidak membantu ibu di sana?” Sang ayah menjawab dengan bijak, “Kami para penghuni surga dilarang Allah untuk menolong mereka yang berada di neraka. Ibu sedemikian, itu disebabkan karena ia adalah orang yang amat bakhil semasa hidupnya.”

“Jadi ayah tidak mau menolong ibu…?!” tanya sang anak sengit. “Dasar!!!” itulah kalimat terakhir yang meluncur dari lisan sang anak.
Sejurus kemudian, anak itu mengambil segelas air dari telaga surga yang ada. Air itu ia bawa untuk ibunya yang berada di neraka. Sesampainya di sana, ia sodorkan air surga itu kepada ibunya. Saat tangan yang memegang gelas itu disorongkan, maka secepat kilat api neraka pun menampar tangannya. Gelas terjatuh, sementara si gadis meraung karena panas yang ia rasakan di tangannya. “Ah…ahhh…ahhh…. panassss!!!” wanita itu mengerang.

Teriakan itu begitu keras terdengar. Keluar dari rongga mulut sekaligus mengguncang tubuhnya. Sontak, ia tersadar. Rupanya ia masih berada di pembaringan! Ia mengerti bahwa ia baru saja bermimpi. Bermimpi berjumpa kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Namun, mengapa tangannya terasa perih? Ia membatin. Wanita itu pun menyingsingkan lengan baju tidurnya. Rasa perih semakin menyayat saat kain baju tersingkap dan menggesek kulit tangannya.

“Masya Allah…!” wanita itu berteriak saat ia lihat tangan kanannya hangus terbakar, terkelupas dan tersayat. Ia menjadi bingung atas kejadian ini. Malam itu ia coba menahan perih. Usai Shubuh, ia pun segera pergi untuk berjumpa Rasul dan menyampaikan apa yang telah berlaku.

“Selamatkan aku, baginda….!” ujar wanita itu memelas. Rasul Saw mulai mengerti apa yang telah berlaku pada wanita itu. Kemudian beliau bersabda, “Ulurkan tanganmu itu!” Tangan itu pun disorongkan. Kemudian Rasul Saw mengambil tongkatnya. Dengan tongkat itu, beliau menyentuh tangan yang terbakar. Rasul Saw berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar wanita itu disembuhkan. Sesaat kemudian, Allah sungguh mengabulkan permintaan nabi-Nya. Tangan itupun berangsur kembali sembuh.

“Perbanyaklah ibadah dan sedekah atas nama ibumu! Semoga Allah Swt menyelamatkan dirinya dari api neraka!” itulah pesan yang beliau sabdakan kepada wanita tersebut.

Ya… sedekah dapat menyelamatkan manusia dari ancaman siksa api neraka! Api neraka yang menyala, membakar dan menyakiti tubuh dapat tertolak dengan sebab sedekah meskipun dalam bentuk kecil. Apa jadinya bila manusia kerap melakukan sedekah itu dalam bentuk besar dan sesering mungkin?

Allah Swt berfirman tentang orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dalam ayat berikut:
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya” (QS. 92:17-18)

Hal senada juga disampaikan oleh baginda Rasulullah Muhammad Saw dalam sabdanya:
“Sedekah sungguh akan menyelamatkan seseorang dari panasnya azab kubur. Seorang mukmin pada hari kiamat sungguh akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (HR. Thabrani)
Dalam sabdanya yang lain, beliau bersabda:
“Bersedekahlah, sungguh sedekah dapat membebaskan kalian dari neraka.” (HR. Thabrani)

April 15, 2007

Si Pemulung

Diarsipkan di bawah: OASIS — beritazakat @ 9:41 am

Hari masih petang, Ani bergegas meninggalkan gubuknya. Dengan keranjang tergantung dipundaknya, dia mempercepat langkah. Jika kalah cepat sampai tempat pembuangan sampah (TPS), artinya tidak makan seharian. Ani tahu betul konsep sebab akibat yang satu ini. Kalaupun bisa datang lebih awal, Ani bisa mendapatkan mainan yang dibuang oleh anak-anak orang kaya yang sudah mulai bosan dengan permainannya. Ani senang sekali jika mendapatkannya.

Hari itu hujan. Belum reda juga. Sudah tiga hari Jakarta diguyur hujan. Dengan berlindung dibalik plastik bekas untuk menutupi kepalanya, Ani terus melangkah, menerjang guyuran air hujan yang nampak berkilauan diterjang cahaya lampu malam. Dalam benaknya terbayang setumpuk kardus bekas dan berbagai botol minuman plastik berbagai ukuran. Dalam diam Ani tersenyum, seakan dia sudah mendapatkannya.

Truk sampah datang jam 06 pagi. Jam 05.30 sudah banyak pemulung berjejer di garda paling depan. Terdapat 300 pemulung di TPS Bekasi yang siap memperebutkan sampah ibukota. banyak dari mereka, jika menjelang pagi tiba, seharusnya mempersiapkan diri berangkat ke sekolah di kelas 4 SD, bukannya menenteng keranjang untuk mengusir rasa lapar.

Terdapat 18 teman ani, yang karena kejamnya kenyataan hidup, memposisikan mereka menjadi miskin, kehilangan haknya mendapatkan pendidikan minimal sampai tingkat SMP. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh orang tua Ani dan orang Tua teman-teman Ani. Mereka juga dilahirkan dari ruang yang beratap kardus 5 kilometer dari TPS, tak banyak yang ditinggalkan dari leluhurnya, hanya pengait kawat dan keranjang sampah. Begitu juga Ani.

Mereka tidak ngerti lagi makna kesenangan hidup, karena memang istilah itu tidak pernah mereka dengar atau rasakan apalagi menjalani. Penderitaan bagi mereka tidak lagi menunjukkan wajah yang menakutkan, karena mereka sudah terbiasa bergumul dengan istilah itu. Mungkin malah bagi mereka penderitaan dan kesenangan adalah istilah yang kabur, karena semuanya serba relatife. Yang pasti, jika mendapatkan lebih banyak barang bekas, mereka tersenyum entah untuk apa atau siapa.

Ani adalah potret kehidupan anak-anak pemulung yang kehilangan haknya menikmati bangku sekolah, hari-harinya dihabiskan untuk membantu orang tuanya memulung demi mempertahankan hidup yang tidak layak disebut kehidupan. Pejabat Pemerintah adalah fihak pertama diakhirat kelak yang dimintai tanggung jawab terkait dengan orang yang dipimpinnya sering merintih, meradang karena kelaparan. Karena Allah sudah memberikan Amanah kepada penjabat untuk mengatur kehidupan orang lain.

Tentu saja tidak ada orang yang menginginkan dilahirkan hanya untuk mengisi sisi kehidupan yang memilukan. Kemiskinan, kemplaratan, hilangnya peluang hidup, hidup dengan tidak layak, semuanya tergantung dari kebijakan ekonomi pemerintah, karena pemulung-pun hidup dalam sebuah negara yang berdaulat. Jika pemerintah mengabaikan masalah ini, semoga saja mereka mati sebagai orang melarat dalam keadaan sendirian ketika ajal merenggutnya.

Mustaine

Blog pada WordPress.com.