InfOz pLu$

Januari 24, 2008

FILOSOFI DIBELAKANG PERINTAH ZAKAT , INFAQ DAN SHADAQAH

Filed under: OASIS — beritazakat @ 5:11 am
Written by PROF. DR. HA. AHMAD SYAFII MAARI
Image

Pendahuluan

ISLAM adalah agama yang punya kepedulian yang sangat tinggi, sekalipun umatnya sering ‎benar menyimpang dari prinsip ini. Dalam kajian saya menemukan bahwa Islam sangat ‎pro dengan orang miskin tetapi pada waktu yang sama bersikap anti kemiskinan. ‎Tampaknya kesimpulan yang semacam ini seperti mengandung sebuah paradoks, ‎sebenarnya tidak begitu. Mengapa? Karena dalam Al-Quran tidak ada perintah agar orang ‎menerima zakat , infaq dan shadaqah. Justru yang diperintahkan adalah agar orang ‎mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah. Artinya orang miskin haruslah bersifat ‎sementara, mereka tidak boleh dan tidak layak berlama-lama berkubang dalam ‎kemiskinan, kelemahan, dan hidup dibawah belas kasihan orang lain. ‎

Oleh sebab itu kemiskinan haruslah dihalau sampai ke batas-batas yang jauh, sehingga ‎manusia meraih kemerdekaan dan martabat sejati sesuai dengan posisinya sebagai ‎khalifah Allah dimuka bumi.  Namun sepanjang sejarah umat manusia, kemiskinan ‎adalah suatu realitas, maka masalah zakat, infaq dan shadaqah akan tetap relevan untuk ‎dikaji, agar lebih berdaya guna, sebagaimana yang akan kita telusuri lebih jauh.‎

Al-Quran Tentang Zakat, Infaq Dan Shadah
Disamping shalat yang tersebut sebanyak 95 kali dalam Al-Quran, semetara zakat, infaq ‎dan shadaqah masing-masing terdapat sebanyak 32, 76 dan 14 kali. Kewajiban shalat dan ‎zakat, baik dalam bentuk perintah maupun dalam kalimat afirmatif, pada 26 ayat ‎disebutkan dalam satu tarikan nafas. Shadaqah dalam makna zakat kita jumpai dalam ‎ayat :60, 103 dan 104, semuanya dalam surat At-Taubah. Dengan demikian, perintah ‎zakat, infaq dan shadaqah punya landasan yang sangat kuat dalam Al-Qur’an, belum lagi ‎dalam sunnah nabi yang jumlahnya banyak sekali. Persoalan yang terpampang didepan ‎kita adalah kenyataan bahwa diktum tentnang harta yang mempunyai fungsi sosial itu ‎masih kurang sekali dihiraukan oleh umat islam sepanjang masa. Maka tidaklah ‎mengherankan ada diantara mereka berpaling kepada maxisme sebagai solusi untuk ‎mempersempit jurang sosial-ekonomi yang menganga. Teori–teori radikal tentang ‎keadilan dan kemiskinan tidak begitu berkembang dikalangan pemikir muslim, padahal ‎al-Quran telah menyediakan landasan telogis yang berjibun.‎
Coba kita ikuti sebentar ayat 103 surat Al-Taubah yang maknanya adalah: “ Ambillah ‎zakat (shadaqah) dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan ‎berdoalah [hai Muhammad] untuk mereka. Sesungguhnya do’amu itu ‎memberikenyamanan (sakanun) bagi mereka. Dan Allah maha Mendengar, maha ‎Mengetahui.” Perintah “ambillah” (khudz) dalam ayat ini mengisyaratkan pemerintah ‎dapat saja memaksa orang yang sudah wajib berzakat untuk mengeluarkan zakatnya, ‎sesuai dengan ketentuan agama. Dalam tafsir disebutkan bahwa ayat ini sebenarnya ‎berkaitan dengan orang yang telah mengakui kesalahan dan dosanya, maka dengan ‎berzakat dosa dan kesalahan itu akan dapat dibersihkan. Bahkan mereka dapat meraih ‎martabat orang-orang ikhlas yang syarat dengan kebajikan (hatta yartafi’u biha ila ‎maratib al-mukhlishin al-abrar).‎ ‎ Dengan demikian pendosa yang sadar akan ‎kesalahannya, lalu bertaubat dan mengeluarkan zakat, maka Allah akan mengampuni ‎dosa dan kesalahannya itu. Ayat 104 lebih menegaskan masalah ini :” Alam ya’lamu ‎anna Allah huwa yaqbalu al-taubata ‘an ‘ibadihi wa yakkhudzu al-shadaqati wa anna ‎Allah huwa al-tawwabu al-rahiim.”‎
Perintah shalat yang bergandengan dengan perintah zakat, a.l kita kutip : “Faaqimu al-‎shalata waatu al-zakata wa’tashimu bi Allahi huwa maulakum”.‎ ‎ Ada pesan al-Quran ‎tentang shalat dan zakat kepada kelompok yang sudah mapan, kita kutip artinya: “Orang-‎orang yang telah kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, membayar ‎zakat dan meyuruh berbuat baik dan mencegah kemunkaran. Dan kepada Allah-lah ‎kembali segala urusan.”‎ ‎ Tujuan berzakat, berinfaq dan bershadaqah, semata-mata untuk ‎kepentingan yang bersangkutan, bukan untuk Allah, sebab Allah itu Maha Kaya, tidak ‎memerlukan apa pun dari makhluk ciptaannya. Allah sangat tahu bahwa manusia itu ‎egois, oleh sebab itu semua amal yang dikerjakannya semata-mata untuk kepentingan ‎dirinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.‎
Ayat tentang infaq dibawah ini menjalaskan pertambahan rezki yang diberikan Allah ‎kepada para dermawan yang artinya : “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya ‎dijalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangki, pada setiap ‎tangki terdapat 100 biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan ‎Allah Mala Luas, Maha Mengetahui.”‎ ‎ Dalam sebuah hadist riwayat muslim dikatakan : ‎‎“Ma min yaumin yushbihu al-‘ibadu fihi illa al-malakani yanzilani, fayaqulu ahaduhuma ‎‎: allahumma a’thi munfiqan khalafan, wa yaqulu al-akharu : allahumma a’thi mumsikan ‎talafan”‎ ‎. Talafan artinya “kebinasaan”. Islam memang mengutuk mereka yang kikir-‎kedekut, sekan-akan keringat orang lain tidak berperan bagi penambahan kekayaannnya. ‎Banyak contoh, seorang pembantu di rumah orang kaya, misalnya, tidak jarang diberi ‎upah yang tidak seimbang dengan tenaga dan waktu yang ia berikan. Sebagai manusia tak ‎berdaya, hidupnya senantiasa dirundung penderitaan dan ketidakberdayaan ditengah-‎tengah sebuah keluarga kaya tetapi tuna-kemanusiaan.‎
Ancaman yang dramatis ditujukan kepada siapa saja yang tidak mau berinfaq dijalan ‎Allah, lagi-lagi kita baca dalam surat al-Taubat, yang artinya :” … dan orang–orang yang ‎menyimpan emas dan perak dan tidak mengeluarkan infaq di jalan Allah, maka ‎beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih. [Yaitu] pada hari yang dipanggang ‎‎[harta-harta] itu atas neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan ‎punggung mereka [seraya dikatakan] kepadamereka : itulah harta bendamu yang kamu ‎timbun untuk dirimu sendiri; lantara itu rasakan [akibat] dari apa yang kamu timbun itu”.‎ ‎ ‎Memang ngeri ancama ini, tetapi jangan mengakibatkan kita takut menjadi kaya, sebab ‎kekayaan itu menurut Al-Quran adalah karunia Allah (min fadhli Allah) yang harus kita ‎cari. “apabila shalat [jum’at] telah dirampungkan, maka bertebaranklah kamu dimuka ‎bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu ‎beruntung.”‎
Mengingat Allah disini agar kita tidak lupa daratan, tidak lupa lautan, harta yang dicari ‎sebagai sarana untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna. Ada dimensi ‎transenden disini dengan prinsip ini, diharapkan seorang beriman tidak akan pernah ‎kehilangan kompas dalam perjalanan hidupnya. Bahagia disini, bahagia disana. Usia ‎manusia sangat terbatas. Mau tidak mau, dunia  ini harus kita tinggalkan, lambat atau ‎cepat. Tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangi tangan Ghaib untuk ‎mencabut nyawa kita, siapapun kita, apapun kita. Tetapi kita sering benar alpa dalam ‎perkaran yang sangat pasti ini.‎
Perintah zakat, infaq dan shaqah mengisyaratkan agar umat Islam menjadi manusia kaya ‎dalam sebuah ekuilibrium yang proporsional. Kita jangan sampai tenggelam dalam ‎bianglala kehidupan yang penuh pesona. Hidup yang sekali ini tidak boleh gagal. ‎Bertuturlah Iqbal :” tanda seorang kafir, ia hilang dalam cakrawala; tanda seorang ‎mu’min, cakrawala hilang dalam dirinya”.‎

Penutup
Dengan kesediaan mengeluarkan zakat, memberikan infaq dan shadaqah menurut ‎ukurannya, semotga kita tidak akan hilang dalam cakrawala. Harta yang dimiliki semoga ‎akan memudahkan perjalanan kita menuju Allah SWT. Selamat menjalankan ibadah ‎puasa dalam upaya spiritual untuk meraih posisi taqwa. Amin

About these ads

The Rubric Theme. Buat website atau blog gratis di WordPress,com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: