InfOz pLu$

Oktober 6, 2005

Zakat, Cermin Sebuah Ego

Diarsipkan di bawah: ARTIKEL — beritazakat @ 3:36 am


Eri Sudewo
Jangan lupa alat globalisasi paling canggih adalah utang. Guyuri utang sebesar-besarnya hingga tak kuat membayar. Dan sedari awal, negara ini pun dibangun dengan kebiasaan utang

Membenahi tradisi yang buruk bukan perkaran mudah. Pertama, cermatkah mengungkap yang keliru. Kedua berani tidak berbeda sikap dengan kebiasaan masyarakat. Ketiga yakinkah hingga konsisten mengusung pendapat. Keempat beranikah merubah kekeliruan itu. Dan kelima bisakah mengkritisi dengan cara yang maruf hingga tak menimbulkan gempa bumi. Zakat jadi satu contoh dari sebuah pergolakan meretas kekeliruan. Buruknya tradisi zakat, sebagian ditandai dengan pengelolaan setengah hati, tidak transparan, tak mengenal sistem akutansi dan pemberdayaannya lebih kental bagi-bagi uang. Entah apakah karena itu zakat tetap terbenam. Kelas menengah ke atas asing dengan zakat. Bukan hanya menganggap sebelah mata, bahkan terkesan emosional saat bersentuhan dengan sedekah. Zakat akhirnya terus tercampak. Karena hanya hidup di pelosok-pelosok atau di kelas marjinal, sulit berharap zakat bisa membawa perubahan sosial.Zakat memang terlanjur dicap kampungan. Dalam benak para elite pejabat, tak mungkin sesuatu yang kampungan bisa diagendakan dalam rapat kabinet apalagi diusulkan sebagai satu kebijakan negara. Padahal esensi zakat tak beda dengan pajak. Bukankah zakat merupakan pajak kalangan muslim. Pada saat negara dibelenggu oleh berbagai problemnya, ZIS dan wakaf telah tampil menghidupi berbagai aktivitas, seperti pendidikan untuk rakyat berpuluh-puluh tahun lamanya. Lepas dari segala kekurangannya, bagaimanapun zakat terbukti telah memainkan peran fungsi dan tugasnya.

Sebelum isu terorisme ditiup Barat, mungkin para elit negara khawatir ditertawai bicara zakat. Kini dengan isu teror dimana-mana, zakat pun makin mati angin. Bicara zakat di forum resmi negara, cenderung bakal menuai badai. Jika tak dicap pendukung terorisme, pejabat mana yang siap dituding penebar Islamisasi. Problem zakat bertambah. Awalnya, muslim yang sukses jadi pejabat atau pebisnis, merasa malu mengusung zakat. Kini rasa malu itu sempurna dibungkus isu terorisme. Siapapun muslim yang sukses kini berpikir ulang. Menuaikan zakat dan sedekah, kini identik dengan mendukung gerakan terorisme. Pasokan ZIS otomatis mulai terhenti. Beberapa lembaga dakwah dan pendidikan di Indonesia yang mengandalkan dana Timur Tengah limbung.

Yang harus disyukuri, tak semua masyarakat jadi pejabat. Karena itu kehidupan zakat pun masih tetap eksis. Seolah masyarakat tak perduli pada isu terorisme. Yang khawatir tentang teror kan para elit. Bagi rakyat mati dimanapun sama saja. Rakyat tak meninggalkan apa-apa, apalagi kursi dan jabatan. Jadi kenapa harus repot-repot memikir isu yang terus meruyak. Jika memang Islam tertuduh, mengapa bom dan bentuk perusakan pada masyarakat tidak terjadi sejak Rasulullah saw mengenalkan Islam. Coba simak, yang menjajah negara-negara di Asia dan Afrika siapa? Lantas siapa pula yang mendisain globalisasi?

Kemiskinan adalah sebuah produk. Sebagian orang bilang bahwa negara yang kaya sumber minyak seolah dapat kutukan. Indonesia contohnya. Provinsi yang kaya minyak justru memiliki penduduk miskin yang tinggi. Dengan eksploitasi 1,1 juta barel per hari, Riau memasok 70% minyak Indonesia. Namun dalam daftar kemiskinan, Riau merupakan propinsi ke-13 termiskin. Sementara NAD dengan kekayaan gas dan minyak, menduduki peringkat ke-4. Propinsi Papua dan Kaltim juga masuk dalam daftar daerah miskin. Kemana larinya sumber rezeki yang meruah-ruah itu.

Tentu itu bukan kutukan. Ini merupakan produk dari suatu kebijakan. Entah apa yang ada dalam benak para penandatangan kesepakatan ekspolitasi oleh pihak asing. Kini lihat kesejahteraan perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber-sumber minyak itu. Jangankan para pemiliknya, pegawainya saja hidup di atas kecukupan. Dalam waktu satu tahun bekerja, rumah yang nyaman pun bisa dimiliki. Lantas perhatikan pula di haji plus, sebagian besar pasangan muda yang pergi haji merupakan karyawan perusahaan minyak.

Mereka yang bekerja jelas tak salah. Jika minyak itu untuk kesejahteraan bangsa, bukankah kondisi fakir miskin tak melarat-larat amat. Yang tengah kita gugat, kebijakan macam apa yang dihasilkan. Perhatikan saham-saham pemerintah di berbagai perusahaan minyak asing. Karena minoritas, pemerintah Indonesia kelabakan saat PIM (Pupuk Iskandar Muda) dan Asian Fertilizer megap-megap tak dapat pasokan gas. Kabarnya dua perusahaan di Lhokseumawe NAD ini akan dilego pemerintah. Tahukah siapa calon pembeli kuatnya? Ternyata perusahaan asing yang harusnya bertanggung jawab atas pasokan gas pada dua perusahaan itu. Contoh lain, saham pemerintah di Freeport sekitar 10%. Jika benar, itu peanut seperti bayar pajak atau zakat saja. Sementara di Freeport itu, ada sebuah perusahaan gamping yang dimiliki seorang menteri di masa Orba. Dengan terkejut saya bertanya apa modalnya. Yang mengantar hanya mengangkat bahu.

Globalisasi ini menarik. Suatu high design of the new colonialism. Wajah bengis kolonial, diubah kemasannya dalam wujud profesionalitas. Dengan bingkai globalisasi, bicara penjajahan kini bicara visi, strategi, leadership dan entrepreneur. Siapa yang enggan merangkum itu semua, jelas tak bakal masuk dalam the western dream. Padahal esensinya jelas dan tegas. Globalisasi memangkas peran pemerintah negara dunia ketiga untuk campur tangan dalam ekonomi. Kekayaan negara dianjur paksa untuk diprivatisasi. Padahal simak simak istilah privatisasi. Asal katanya adalah privat, artinya pribadi. Maka bayangkan kekayaan bangsa dalam bentuk sumber daya alam, kini diekspolitasi pribadi yang sebagian besar asing. Apa bedanya dengan masa kolonialisasi Hindia Belanda dulu. Lantas kekayaan negara negara dalam BUMN dan BUMD, pun telah jatuh ke tangan mereka.

Jangan lupa alat globalisasi paling canggih adalah utang. Guyuri utang sebesar-besarnya hingga tak kuat membayar. Dan sedari awal, negara ini pun dibangun dengan kebiasaan utang. Siapa yang berutang tergadailah hidupnya. Jika tak punya apa-apa untuk membayar, siap-siaplah jadi budak. Jika punya kekayaan, sampai kapan mampu melunasi. Sumber daya alam ada batasnya. Maka Indonesia yang kaya raya jadi negara gharimin. Indonesia punya sumber daya. Namun nyaris semuanya dieksploitasi asing. Kelak dalam pelajaran geografi, bakal ada bab yang isinya: ADA SUMBER DAYA ALAM YANG CUMA NUMPANG TEMPAT. SEBAB SEBAGIAN BESAR KEKAYAAN ITU, DIEKSPLORASI UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI TEMPAT LAIN.

Dalam konstelasi zakat, Indonesia masuk asnaf yang mana. Gharimin, kalangan yang punya utang, tampaknya tidak. Sebabnya jelas, Indonesia bukan hanya kaya melainkan teramat kaya. Dalam pemahanam zakat, gharimin yang dibantu adalah pihak yang terpaksa berutang. Kalangan ini memang tak punya sumber daya. Karena hidup harus dipertahankan, terpaksa salah satunya dengan berutang. Dengan utang, kehidupan besok belum tentu membaik sementara hidup sudah tergadai. Apa boleh buat. Meski bagai buah simalakama, utang merupakan ikhtiar. Siapa tahu besok akan ada yang berubah. Kendati esok tak juga berubah, namanya juga ikhtiar. Dalam kondisi begini, zakat memang jadi satu solusi tepat. Sebagai jaminan sosial, zakat jadi sah untuk menyelamatkan kehidupan esoknya.

Tetapi orang kaya yang gemar berutang jelas sebuah tragedi. Dalam konteks zakat, ini tak termasuk dalam asnaf gharimin. Itulah Indonesia yang tak berani berikhtiar di atas kaki sendiri dengan segala kendala. Indonesia bukan bangsa bodoh. Sebab bangsa ini telah mengirim puluhan ribu putra-putra terbaik mengenyam pendidikan di luar negeri. Berapa banyak jumlah doktor, akademisi, pengajar dan peneliti kita. Berapa banyak jumlah pebisnis kita. Berapa banyak ustadz dan ulama kita yang mengabdi pada masyarakat. Kita punya semuanya. Namun seperti orang Malaysia bilang, yang kita tidak punya adalah pemimpin yang baik. Tentu harus ditambahkan tegas, adil dan benar.

Karena tak ada pemimpin yang berani, semua kekayaan dan potensi seolah tak berarti. Siapapun paham berjuang untuk kepentingan bangsa jelas sulit. Tetapi bukankah mengikuti keinginan asing juga tak kalah sulitnya. Entah, meski berdasi tampaknya mental inferior kita masih saja silau oleh mereka yang bule. Di antara kita tampaknya makin kental orang yang hanya berpikir pendek dan untuk kepentingan pribadi sendiri. Kitapun selalu berprasangka baik pada asing. Padahal Soekarno bilang, ingat jasmerah –jangan lupa sejarah. Kolonialisasi telah terjadi berabad-abad lamanya. Perbudakan pun telah berlangsung lama, yang warisannya masih terasa di sana sini. Prasangka baik adalah baik. Namun untuk kepentingan bangsa, prasangka buruk pun sah-sah saja. Seperti yang Rasulullah saw pesankan, semua memang tergantung niatnya. Maka terjemahkan sudzon itu dalam bentuk kewaspadaan.

Pemimpin dan sikap kita adalah soal internal. Globalisasi adalah soal eksternal. Bom dan teror tak jelas siapa yang bermain. Tetapi kini terlanjur dicap pada kalangan muslim. Sementara globalisasi seolah-olah penebar kedamaian dan kesejahteraan. Simak, mungkinkah bom dan terorisme memiskinkan pihak lain? Bisakah terorisme meremukan sebuah bangsa? Jawabnya mungkin saja. Namun lihat dampak globalisasi. Berapa banyak negara yang jadi miskin. Lantas berapa negara telah terampas masa depannya. Bicara teror adalah bicara kemungkinan, sementara bicara globalisasi telah terbukti akibatnya. Kita sendiri merasakan betapa makin sulit hidup ini. Lantas bisakah kita tetap terlelap sementara problem generasi berikut menumpuk-numpuk akibat ulah kita. Mereka harus menyelesaikan problem dahsyat yang kita wariskan. Dimana moral kita?

Dalam hal terkecil, moral ini bisa kita telusuri di bulan Ramadhan. Dalam hal zakat, jangan tunaikan zakat harta selalu di Ramadhan. Di bulan ini perbanyaklah infak sedekah. Sedang zakat harta harus dikeluarkan sesuai dengan haul atau jatuh temponya. Jika ditepatkan di Ramadhan, itu berburu pahala namanya. Dengan memburu pahala, bukankah itu ego pribadi. Maka moral pun bisa menimbang: Kejar pahala atau penuhi hak kalangan miskin di luar Ramadhan. Memenuhi hak fakir miskin jelas mulya. Namun mengejar pahala tetapi menyulitkan fakir miskin di bulan-bulan lain, bisakah memantik ridho Allah swt? Wallahu’alam jawabnya.

Merubah tradisi jelas tak populer. Tradisi mengeluarkan zakat harta di Ramadhan adalah sebuah kekeliruan. Jika kita tak berani merubah, jangan harap kita bisa cakap memandang persoalan besar yang menghadang bangsa. Ini ego pribadi. Atas nama agama, kita kedepankan kepentingan pribadi dan kita abaikan hak fakir miskin. Kita tak paham arti bermasyarakat. Sama seperti yang dihadapi para petinggi negeri ini. Mereka tak paham arti berbangsa. Mereka bangun negeri ini berkerja sama dengan pihak asing. Hanya karena ego pribadi, rencana untuk memberi kesejateraan bangsa jadi remuk.

Ego pribadi terbukti telah jadi peremuk. Kini terlampau banyak problem yang menjerat. Tinggal satu jawabnya: BERBENAHLAH. Mulai dari diri sendiri. Gugat dari soal zakat yang cuma 2.5%. Tunaikan zakat harta sesuai haulnya. Di Ramadhan ini, perbanyak infak sedekah yang bisa lebih dari 2.5%. Zakat telah diwajibkan bahkan ditegaskan sebagai satu Rukun Islam. Inilah keputusan ekonomi politik dan sosial paling penting di dalam Islam. Jika tak juga berubah, jangan harap kita bisa memaknai keputusan penting itu. Kekeliruan tradisi pengelolaan zakat, telah mencabik-cabik kehidupan umat Islam. Padahal zakat sarat dengan rahmatan lil’alamin.

Oktober 4, 2005

SAMPAH dan BANGSA SAMPAH

Diarsipkan di bawah: ARTIKEL — beritazakat @ 3:34 am


ERI SUDEWO
Tanggal 28 April 05, Republika memuat foto tentang monumen sampah. Monumen ini berbentuk tugu. Dibuat dari sampah kertas, plastik, botol dan kaleng yang beratnya 2.8 ton.

Tanggal 28 April 05, Republika memuat foto tentang monumen sampah. Monumen ini berbentuk tugu. Dibuat dari sampah kertas, plastik, botol dan kaleng yang beratnya 2.8 ton. Tugu Sampah yang tingginya 15 meter dengan diameter 32.4 meter ini, dibangun di kampus Universitas Negeri Semarang. Pemuatan foto ini memang sensitif, pasti ada motif di belakangnya. Coba bayangkan, membuat tugu dari sampah dan ditempatkan di sebuah kampus. Ini saja sudah membuat orang bertanya-tanya. Sementara belakangan, soal sampah memang tengah hangat. Lantas dengan dimuatnya di Republika, sempurnalah keinginan pembuat Tugu Sampah.

Entah mana yang lebih nakal, pembuat Tugu Sampah atau wartawannya. Ada pesan yang memang berupaya disuguhkan, bahwa satu soal besar yang menghadang bangsa ini adalah SAMPAH. Jakarta punya sampah, Bantar Gebang Bekasi yang meradang. Entah soal Bantar sudah selesai atau belum, di belahan lain warga Cibinong Bogor ramai-ramai menolak sampah Jakarta. Bagai dalam kisah asmara cinta ditolak dukun bertindak, eksportir sampah pun tak kalah gertak. Sampah ditolak, prokem pun bertindak. Belum lagi kasus ini usai, tiba-tiba masyarakat dikejutkan adanya longsoran sampah di Cimahi Bandung. Tak tanggung-tanggung longsoran sampah pun memakan korban.

Sesuai dengan jati diri sampah, berita sampah tentu gombal. Tapi soal sampah di Indonesia, kini bukan lagi gombal. Berlarutnya penanganan sampah, pelengkap cermin perilaku sikap hidup. Indonesia memang kaya berita besar yang sensasional, dramatis, memilukan dan sering amat naif. Di belahan dunia manapun longsoran tak bisa lepas dari gejala alam. Namun Indonesia memang selalu membuat orang-orang di luar negeri geleng-geleng kepala. Berbagai asset BUMN dijual ke asing, serta sumber daya alam pun diobral untuk dieksplorasi asing. Kini PIM (Pupuk Iskandar Muda) pun tak kebagian pasokan gas hingga terancam bubar. Di kelapa sawit yang sekian juta ha, kita cuma ekspor CPO (crude palm oil). Tak ada nilai lebih. Di industri mobil yang begitu besar pasarnya, kita juga hanya jadi tukang. Sekian puluh tahun membangun industri mobil, tak satupun ada yang bermerk made in Indonesia. Lantas balik ke soal sampah, timbunan sampah hingga longsor cuma ada di Indonesia. Makan korban jiwa lagi.

Karakter Bangsa
Sampah merupakan sesuatu yang tak lagi terpakai, atau memang tak lagi mau dipakai. Sampah beragam jenisnya. Kebanyakan sampah dimahfumi sebagai sesuatu yang berwujud nyata, bisa disentuh dan dilihat phisiknya. Yang tak banyak dipahami orang, ada pula sampah yang tak berwujud. Seperti pikiran yang tak punya nilai apa-apa tentu jadi sampah pikiran. Sebagian masyarakat yang terlibat dalam tindak kriminal, jaringan pengedar narkotik dan pelacuran, juga merupakan contoh-contoh sampah masyarakat. Sampah yang berwujud phisik, onggokannya ada yang bersih, kotor dan bahkan ada juga sampah yang berbahaya. Setiap hari manusia menghasilkan sampah. Binatang pun demikian, termasuk tetumbuhan dan pohon yang semuanya menghasilkan sampah. Berarti hitungannya bukan lagi harian tetapi sudah per detik.

Saat masih sedikit, sampah dapat segera ditangani. Sebatang puntung rokok misalnya, sesobek kertas atau sehelai tissue, dengan mudah dibuang ke keranjang sampah. Tetapi saat sampah sudah di keranjang plastik, persoalan pun muncul. Bagi warga yang hidup di tempat kumuh, plastik berisi sampah dibuang sekenanya. Jika di sekitar rumah ada kali atau selokan, pasti dipenuhi sampah-sampah plastik. Jika di situ terdapat lahan kosong, tanpa dikomandoi warga beramai-ramai menjadikan itu tempat pembuangan sampah. Jika tak ada got dan lahan kosong tak ada, tetangga yang punya halaman jadi sasaran. Tiap pagi penghuni rumah harus membersihkan karena selalu saja ada plastik sampah yang dibuang ke halamannya. Cara mudah membuang sampah, warga sekenanya meletakkan di jalan, di kelokan, di sudut jalan atau di persilangan jalan.

Di perumahan-perumahan tabiat penanganan sampah berbeda. Di lingkungan ini penanganan sampah sudah lebih tertata. Truk-truk atau gerobak sampah datang membongkar sampah yang ditempatkan di bak penampung di sudut depan rumah. Yang tidak punya bak penampungan, sampah-sampah diplastiki digantung di pagar atau di pohon di depan rumah. Tujuannya baik agar tak diacak-acak binatang. Namun dari segi pemandangan tentu jadi tak sedap. Apalagi jika sampah itu sudah berhari-hari tak diangkat. Lalat berterbangan dan air limbahnya menetes-netes menimbulkan aroma yang juga tak sedap.

Di daerah perkotaan, sampah yang berupa kotoran, segera ditampung di septic tank. Tetapi sebagian tradisi masyarakat kita, terutama yang masih tinggal di kampung, tidak mengenal WC. Jika di kampung ada sungai, di situlah mereka buang hajatnya. Karena sebagian masyarakat kita juga tak kenal sumur, maka mereka pun mencuci dan membersihkan diri di kali itu. Jika pemerintah gali lubang tutup lubang cari utangan buat bangun negara, masyarakat desa yang tak kenal WC gali lubang tutup lubang untuk buang hajat di kebun-kebun, di semak belukar atau di lahan kosong. Pokoknya asal tidak di rumah, di manapun jadilah.

Sampah merupakan sesuatu yang tidak disukai oleh pemiliknya. Maka begitu sampah diangkat, yang empunya terbebas dari beban. Tiga hari atau bahkan seminggu sampah tak diambil tukang sampah, seisi rumah pasti gempa bumi. Setelah diambil kita tak mau tahu kemana sampah itu dibuang. Entah dibuang ke sungai, digeletakkan di lahan kosong pemukiman rakyat atau di kampung-kampung. Bayangkan apa yang terjadi jika tempat penampungan sampah ada di sebelah istana negara, atau di pemukiman para pejabat atau di Menteng Jakarta Pusat. Jika presiden dan pejabat berkebaratan, mengapa sampah di tempatkan di kampung-kampung? Apakah warga yang kampungnya jadi tempat pembuangan sampah lantas ikhlas?

Dalam penanganan sampah begini, yang kerepotan adalah para tukang sampah. Pertama mereka mau mengangkut sampah, karena memang tak ada lagi job yang bisa mereka kerjakan. Kedua dari sisi penghasilan, tukang sampah menerima hanya untuk bertahan hidup. Karena sampah, ibu-ibu rumah tangga berkeberatan harus membayar lebih. Namanya juga sampah, untuk apa bayar mahal. Padahal yang ketiga, tukang sampah inilah yang harus membayar upeti kepada centeng-centeng yang menguasai lahan pembuangan sampah. Keempat para tukang sampah, apa boleh buat harus mau berbau-bau bekerja menyelesaikan sampah masyarakat. Padahal ada bau sampah satu plastik saja, di rumah manapun pasti sudah geger. Kelima jasa tukang sampah memang amat besar. Sebab merekalah yang mengurusi barang menjijikan yang tak mau diurus pemiliknya.

Soal sampah memang jadi cermin. Sebuah karakter tengah dipertontonkan. Intinya kita tidak paham bagaimana sesungguhnya menangani sampah. Dari yang kecil kita bisa lihat. Di ruang ber-AC, sebagian masyarakat masih saja tetap merokok. Mereka tak mau tahun polusi sampahnya mengganggu orang lain. Puntung atau bungkus permen pun masih kerap dibuang seenaknya. Sampah-sampah di rumah harus keluar. Penghuni rumah tak mau tahu dimana sampah dibuang. Termasuk warga yang tinggal di pemukiman elit, juga tak perduli jika truk dan gerobak sampah memuntahkan isinya ke sungai, ke lapangan kosong, atau di manapun asal tidak di sekitar rumahnya. Maka hampir di mana-mana, selalu berserak yang namanya sampah. Malah di tempat-tempat penampungan, sampah selalu menggunung tumpah ruah. Cara penanganan sampah Jakarta, sedikit banyak ditiru kota lain. Cara di kota ini berimbas juga ke daerah yang lain. Karena tak tertangani secara serius dan baik, sampah dari yang kecil menjadi-jadi volumenya. Karena semua orang Indonesia memproduksi sampah, bukankah ini sampah bangsa namanya. Dari yang sederhana, akhirnya jadi kompleks dan strategis.

Beda Sampah Orang Miskin & Orang Kaya
Semua orang memproduksi sampah. Dari produksi ini, kita dapat mengklasifikasi sampah sesuai kualitasnya. Ada sampah yang sama sekali tak bisa terpakai, kecuali untuk pupuk. Ada yang masih dimanfaatkan, yang nilainya tergantung kepandaian mengurai mana yang masih bisa digunakan. Ada juga sampah yang memang mutlak bisa digunakan seperti saat barang itu diluncurkan pertama kali. Dari klasifikasi fungsi sampah tersebut, ternyata hasilnya bisa menjelaskan status sosial masyarakat. Dari sampah ini, kita dapat bedakan mana sampah orang miskin, mana sampah kelas menangah dan mana sampah orang-orang kaya.

Dari sekian perbedaan, intinya terletak pada sejauh mana sampah itu masih bisa didaur ulang dan digunakan. Maka sampah orang miskin, ternyata sama sekali tak lagi bisa dikonsumsi oleh orang lain. Sampah kelas menengah, relatif masih bisa didaur ulang dimanfaatkan pihak lain. Sedang sampah orang-orang kaya, barangnya cenderung mutlak bisa digunakan tanpa perlu diurai atau didaur ulang. Dalam membuang barang, orang kaya tak perlu menunggu sesuatu barang menjadi rusak. Bahkan dalam mengganti barang, alasan orang kaya bisa amat sederhana. Karena ada model baru yang lebih menarik, misalnya, barang pun diganti. Ada yang mengganti barang, karena ternyata ada orang lain yang pakai. Atau barang masih bagus sudah disisihkan karena alasannya sudah tak suka saja.

Toko-toko penjual HP, banyak menampung beragam jenis HP bekas. Berbagai show room mobil, juga banyak dijejali mobil-mobil bekas. Bahkan di Jakarta ini ada outlet Barbeku (barang bekas berkualitas), yang menampung berbagai barang second hand. Artinya barang yang sudah tidak mau dipakai, bagi pemilik sesungguhnya merupakan sampah. Namun karena masih punya nilai jual, secara ekonomis barang-barang itu pun dijual. Uang yang mereka terima, mungkin hanya dipakai untuk tambah-tambahan atau habis di rumah-rumah makan. Bedakan dengan para penjualnya, yang memang berdagang dengan tak mengindahkan apakah baru atau bekas. Yang penting nilai jualnya baik, berarti masih ada orang yang siap membeli.

Pakaian orang miskin, maaf aroma alami dari bau tubuhnya tentu beragam. Jika dibuang, siapa yang mau mengenakannya. Sekali lagi maafkan, mereka saja sudah enggan memakai, apakah masih tersisa orang lain yang mau mengenakannya? Berarti kondisi pakaian itu mungkin memang sudah hancur-hancuran. Bedakan dengan baju orang kaya. Kondisi pakaian orang kaya, dijamin masih layak pakai. Merk baju-bajunya bukan hanya menandakan selera dan kelasnya, melainkan juga kualitas kekuatannya terjamin baik. Lantas aroma wewangiannya, tentu masih melekat karena setiap dipakai disemprot minyak wangi. Bahkan kelompok artis, banyak yang memakai pakaian yang hanya dipakai satu kali saja saat manggung. Setelah itu dijual atau dilungsurkan kepada orang lain. Dan juga pasti ada orang kaya yang begitu tahu salah membeli, barang itu tak akan digunakan sekalipun. Maka beruntunglah orang-orang sekitarnya yang akan mendapat berbagai lungsuran barang.

Tradisi Orang Kalah
Daur ulang sampah memang amat tergantung kondisi sampah. Mendaur ulang sampah dan menggunakannya, dalam kondisi darurat tidaklah mengapa. Tetapi jika daur ulang itu sudah jadi kebiasaan, masalahnya jadi lain. Hidup dengan selalu mendaur ulang sampah adalah persoalan serius. Itu mencerminkan sebuah jati diri. Bahwa daur ulang tak lepas dari kreativitas dan inovasi, tidaklah dapat dibantah. Tetapi mendaur ulang sampah, sejatinya merupakan kreativitas masyarakat kalah.

Bicara masyarakat yang kalah definisinya beragam. Sebagai masyarakat yang kalah, predikat apapun yang diberikan tak bisa ditolak. Ditilik stratanya, masyarakat kalah adalah mereka yang fakir miskin. Mengapa jadi fakir dan miskin, jawabnya tentu bisa meluas. Ada faktor internal dan eksternal, sebagai dua hal yang saling mengait. Yang pasti mereka gagal memanfaatkan peluang dengan kekuatan yang dimilikinya. Karena gagal kini mereka lemah dalam segala hal. Atau karena lemah mereka jadi gagal total. Apapun penyebabnya, hidup mereka akhirnya tergantung pihak lain, tergantung kebaikan hati orang kaya dan amat tergantung kebijakan penguasa.

Gagal memanfaatkan peluang, artinya tak bisa melihat potensi sumber daya. Baik dalam memanfaatkan sumber daya alam, maupun mencermati lingkungan sosial yang menawarkan banyak peluang usaha. Jikapun punya sumber daya, ternyata sumber daya itu diberikan pada pihak lain. Maka jika mereka punya lahan sawah dan kebun, berapa banyak petani yang jatuh dalam perangkap ijon dan tengkulak. Jika mereka punya lahan begitu luas, mengapa kini terpetak-petak dan sebagian besar telah berubah kepemilikan. Jika mereka datang ke pasar membawa dagangan, mengapa uang yang dibawa pulang tak bisa menjajikan masa depan. Dalam hal ini memang ada faktor eksternal di luar jangkauan nalar kalangan rakyat jelata.

Tak bisa mengelola sumber daya, bukankah ini juga yang terjadi di pemerintahan. Di luar negeri, jarang sekali ada negara yang memiliki minyak dan gas sekaligus. Rata-rata jika punya minyak, mereka tak punya gas. Jika punya gas, berarti tak ada minyak. Hanya Indonesia, sedikit negara yang punya sekaligus minyak dan gas. Bahkan dalam hal minyak, Indonesia punya tiga jenis minyak. Di bawah tanah ada minyak bumi, di atas tanah ada minyak sawit dan minyak kelapa. Namun sederas-derasnya minyak itu didulang, tak juga bisa mensejahterakan rakyat. Malah berapa banyak rakyat di sekitar daerah pengolahan minyak bumi, hanya jadi penonton kemewahan orang-orang asing dan pekerja lain yang hilir mudik di situ.

Antara rakyat dan pemerintah, ternyata sama-sama tak bisa mengelola sumber daya. Rakyat jadi makin miskin karena menjuali apa yang dimiliki. Pemerintah juga tak bisa apa-apa saat Exxon tak mau menjual gas pada PIM di Lhokseumawe Aceh. Bedanya kemiskinan rakyat terlihat kasat mata, sedang pejabat pemerintah tak tampak miskinnya karena masih punya fasilitas. Rakyat tak lagi menyisakan harta buat anak-anak mereka, sedang pemerintah telah mewariskan generasi mendatang dengan utang, yang di tahun 2005 ini mencapai Rp 1.600 triliun. Rakyat memang bodoh hingga jadi miskin, sementara bukankah banyak orang pintar di pemerintahan. Karena bodoh rakyat tak mungkin menjual keluarga. Namun apa mungkin karena banyak orang pintar maka negara pun bisa dijual.

Rakyat miskin memang akhirnya hidup dari mengkreasi sampah. Tetapi mengapa kreasi dari sampah ini dituruti kalangan yang mampu. Pakaian bekas dari Taiwan dan Korsel membanjiri Indonesia. Lalu ban-ban bekas menyusul. Jok bekas, mesin bekas hingga mobil bekas pun banjir di Indonesia. Malah perusahaan air mineral raksasa di Indonesia, juga menggunakan truk-truk bekas. Ciri truk bekas luar negeri itu, panjangnya melebihi panjang truk lokal. Body belakang terbuat dari alumunium. Sedang tulisan berhuruf Cina Mandarin masih tegas terbaca. Aneh, ironis, menarik dan bingung campur aduk di benak kepala menyaksikan truk-truk ini. Pemerintah DKI membeli truk baru untuk mengangkut sampah. Sedang berbagai perusahaan membeli truk-truk bekas untuk mengangkut dagangannya. Rakyat miskin menggali pasir di sungai, untuk menyambung hidup. Sedang beberapa perusahaan besar berbisnis pasir ke Singapura. Para penggali pasir di sungai tak pernah terpikir menjual sungai, sedang perusahaan penggali pasir telah menenggelamkan beberapa pulau.

Dari uraian di atas, rakyat dan pejabat ternyata punya kemampuan serupa, yakni tak bisa mengelola sumber daya. Tak mampu mengelola sumber daya adalah ciri orang yang kalah. Tak mampu dan kalah, bukankah sesuatu yang tercampakkan. Sesuatu yang tercampakkan, bukankah itu sampah. Maka astagfirullah berlebihankan jika bangsa kita dikatakan BANGSA SAMPAH. Kenapa? Karena kita tak cakap mengelola anugerah Allah swt. Sumber daya dieksplorasi asing. Pasir digali untuk menambah pantai di Singapura. BUMN dijual. Hutan ditebasi yang kayunya diekspor legal atau tidak dalam bentuk gelondongan. Karena tak mampu mengelola sumber daya seperti itu, bukankah tindakan kita yang katanya membangun, jelas-jelas memiskinkan bangsa. Berpuluh-puluh tahun punya industri mobil, tapi tak juga ada made in Indonesia.

Sejarah Indonesia memang penuh air mata. Tapi kita tak perlu mengusap air mata sejarah. Biarkan itu berlalu, asal kita sungguh-sungguh mau berbenah. Namun masih adakah orang-orang yang memang terpanggil, melihat ibu pertiwi semakin hancur dan tenggelam. Dua ratus juta orang yang mengaku bangsa Indonesia. Tidakkah ada sekelompok orang yang tergugah untuk menyelamatkan bangsa. Wah… kata-kata ini amat heroik, yang pasti akan ditertawakan oleh BANGSA SAMPAH.

KETERHINAAN SEDEKAH

Diarsipkan di bawah: ARTIKEL — beritazakat @ 3:32 am

ERI SUDEWO
TAK PRESTIS
Di sebagian masyarakat, boleh jadi istilah sedekah tak lagi terhormat. Terutama di kalangan elit tertentu, menyebutnya saja seolah begitu aib.

TAK PRESTIS
Di sebagian masyarakat, boleh jadi istilah sedekah tak lagi terhormat. Terutama di kalangan elit tertentu, menyebutnya saja seolah begitu aib. Sedekah cuma diartikan tak lebih dari sekadar uang receh, kekumuhan dan kemelaratan. Agak mustahil dalam pertemuan sesama rekan sejawat itu, tiba-tiba muncul kata sedekah. Begitu terlanjur menyebut sedekah, kata itu segera raib lagi. Tak ada yang menyambut, sebab memang bukan di situ tempat kata sedekah. Jikapun ada, “Biar supir atau pembantu saya saja yang urus sedekah itu”, kata yang menyambut.

Sebuah jawaban taktis, namun maknanya bisa ganda. Pertama kata sedekah dikaitkan dengan supir dan pembantu. Ini bukan cuma sekadar spontan. Kaitannya harus dilihat jauh ke belakang. Ada perjalanan sekian lama yang akhirnya membentuk opini, bahwa kehidupan sedekah berada di masyarakat bawah dan hanya sekadarnya saja. Kedua dengan sikap itu, kalangan ini telah membedakan sikap dan gaya hidup dengan supir dan pembantunya. Perbedaan ini bisa ditegaskan dengan amat sadar, bahwa kehidupan majikan memang berbeda dengan pembantunya. Atau perbedaan tersebut terbentuk tanpa disadari, mengalir begitu saja karena toh di masyarakat sedekah memang terlanjur terlampau biasa sekali.

Dalam soal sedekah menyedekah ini, mereka memahfumi dengan jargon dan istilah tersendiri. Mereka lebih akrab menyebut sedekah sebagai dana hibah. Jika kaitannya dengan luar negeri, dana hibah itu disebut grant. Bagi mereka grant amat beda dengan sedekah. Grant jumlahnya bisa milyaran bahkan puluhan dan ratusan milyar. Sedang sedekah cukup seribu atau dua ribuan rupiah. Maka cukup supir yang mengurusnya. Dana hibah atau grant, tampaknya lebih punya kekuatan. Ada makna yang terbangun di balik hadirnya dana tersebut. Karena dari luar negeri, setidaknya tentu ada hubungan baik dengan pemberi. Di samping calon penerima juga harus punya program yang menarik hati calon pemberi, serta harus dikemas secantik mungkin. Jika program tak menarik, hubungan baik bisa menjadi jembatan. Sebaliknya bila hubungan masih awam, kekuatan program yang akan memperat hubungan.

Jangan lupa sang pemberi ini biasa disebut sebagai donor. Entah donornya merupakan masyarakat, lembaga atau pemerintah. Jika donor merupakan lembaga, biasanya berupa foundation. Jika dari pemerintah, sering disalurkan melalui lembaga resmi yang mereka bentuk. Ada Ausaid singkatan dari Australian Aid. Ada pula Usaid, kependekan dari lembaga United State Aid yang dibentuk oleh pemerintah Amerika. Sedekah diberikan begitu saja tanpa persyaratan ini dan itu. Bagi mereka yang biasa mengelola grant, sedekah tampak teramat mudah hingga tak menantang. Sedang untuk mendatangkan hibah grant, ini bukan pekerjaan mudah. Banyak persyaratan dan tahapan yang harus dilalui. Jika berhasil menggaet grant, programnya bakal terdiskusikan di kalangan donor. Berarti bukankah namanya telah masuk dalam barisan philanthropy dunia. Inilah tantangannya. Inilah bedanya sedekah dengan grant.

SEBAB MUSABAB
Di Indonesia, praktek sedekah memang terlanjur merusak kemulyaan sedekah. Terutama di pulau Jawa, hampir di tiap jalan dijumpai kegiatan meminta sedekah. Bukan hanya di jalan-jalan kecil, di tengah jalan utama pun para peminta sedekah ini tak ragu berdiri. Terkadang hanya menaruh satu meja atau kursi, tetapi banyak juga yang berjajar dengan sekian kursi. Dengan senyum dan membungkuk-bungkuk, ritual pun diperagakan siapapun yang bertugas. Tangan kanan memegang jaring untuk menaruh sedekah, sementara tangan kiri melambai-lambai tanda pengemudi harap melambatkan kendaraan.

Masih di sekitar jalan, juga banyak berkeliaran peminta sedekah. Tradisinya sama tak berubah dari tahun ke tahun. Mereka turun naik kendaraan umum, sambil tak lupa membawa kotak kayu penampung sedekah. Kotak terkunci, sebagai tanda bahwa kotak itu akan dibuka oleh yang mengutus. Terkadang mereka berhenti di perempatan jalan, yang menggilir kendaraan untuk dimintai mengisi kotak itu dengan sedekah. Sementara pengemis yang lain juga tak ketinggalan meminta-minta sedekah. Bersaing dengan para pengemis cilik atau pengamen cilik lainnya. Sedang di kampung-kampung, tradisi meminta sedekah adalah mengirim anak-anak santri berkeliling kampung. Terutama dengan anak-anak yatim, sedekah dari warga kampung dapat menghidupi panti atau untuk penyelenggaraan pendidikan.

Tradisi ini terus hidup, yang entah kapan mulai dan berakhirnya. Ada permintaan sedekah yang polos-polos saja. Ada pula meminta sedekah dengan kemasan yang amat menarik. Bahkan ada pula yang mencari sedekah dengan berbohong. Bagaimanapun tradisi sedekah telah menghidupi berbagai pihak, baik para pengemis maupun aktivitas kelembagaan sosial dan pendidikan di Indonesia. Dari sedekah ini, tak terhitung lagi jumlah kehidupan yang bisa terselamatkan. Dari sedekah ini, pasti juga terlahir tokoh-tokoh penting kelak. Tokoh yang tak mengakui, biasanya jumlahnya lebih banyak ketimbang yang mengakui bahwa masa lalunya ditopang sedekah.

Sedekah yang yang berkeliaran di jalan, door to door dan keluar masuk kampung, di luar segala manfaatnya, jadi penyebab terposisinya sedekah jadi hina. Mustahik sebagai pemetik manfaat tak merasa bersalah karena menganggap sedekah merupakan kewajiban orang kaya. Sebagai kewajiban sampai kapanpun sedekah dianggap akan terus mengalir. Bila sedekah yang diterima hari ini habis, besok pasti ada yang memberi lagi. Tinggal bagaimana tingkah mereka mengiba-iba dan memelaskan diri. Semakin menyayat dan mengenaskan, semakin besar sedekah yang akan diterima. Maka di manapun, masyarakat disuguhi berbagai atraksi tingkah menyayat. Beragam kreasi kemiskinan ditontonkan. Dari sekadar hanya menyanyi dengan bertepuk tangan, membalut luka dengan pemerah berceceran, hingga bagian tubuh yang paling cacat sengaja ditonjolkan.

RUNTUHNYA HARKAT
Proses ini terus berlangsung yang tiba-tiba telah berjalan tiga, lima atau sepuluh tahun atau bahkan hidupnya memang dari mengemis. Kebiasaan mengemis telah jadi profesi, yang tak mudah untuk keluar dari pusarannya. Jika bapaknya pengemis, dapat dipastikan isteri dan anak-anaknya juga jadi pengemis. Sebagai pengemis, keluarga ini telah mempertaruhkan harkatnya. Tak ada posisi apapun dari keluarga pengemis di masyarakat. Anak-anak pengemis akan jadi bahan ejekan bagi anak-anak yang lain. Isteri pengemis pun akan jadi gunjingan setiap hari.

Sementara sedikit sekali di antara mustahik yang menjadikan sedekah sebagai modal usaha. Dibanding mengemis, membuat usaha memang lebih sulit, pelik, melelahkan dan penuh resiko. Ada berbagai penyebab sulitnya mengembangkan usaha. Jika ada modal, apakah produknya layak konsumsi. Jika produknya layak konsumsi, apakah banyak yang membeli. Jika produk layak dan pasar tepat, apakah memang kebijakan mendukung keberlangsungan usaha mereka. Tulisan ini bukan untuk menghujat upaya kalangan bawah. Ini sekadar penyadar, bahwa dalam berusaha mereka terbentur-bentur pada berbagai kekurangan. Pengetahuan yang mereka miliki amat sederhana. Hingga kreativitas makanan yang disuguhkan bukan lagi sederhana, melainkan juga amankah dikonsumsi.

Maka jika lebih mudah mendapat uang dengan mengemis, kenapa harus bersusah-susah usaha. Jika wajah penghabisan mengiba-iba bisa mendatang rezeki, bukankah amat bodoh berjualan jika malah tekor. Sehari dua hari rugi tak masalah. Namun sebulan dua bulan apalah daya. Akhirnya mengemis jadi satu alternatif terbaik. Anak yang menenteng koran, mendapat untung bersih Rp 30.000 sehari sudah luar biasa. Tetapi bagi pengemis atau pengamen cilik, uang sejumlah itu bukan perkara sulit. Meski tanpa disadari, penjaja koran ini tengah mengembangkan mental kewirausahaan sejak kecil. Sedang pengemis cilik, telah menyerahkan diri dan masa depan ke masyarakat. Sekarang kecil-kecil sudah jadi beban. Kelak seiring kebutuhan yang makin bertambah, beban itu bisa jadi penyakit sosial. Keluarga miskin adalah keluarga yang kalah. Sejak lahir hingga akhir hayat, kemiskinan tak pernah mau pergi. Terus menjarah, mencabik-cabik dan menghancurkan kehidupan keluarga kalangan bawah.

SALAH PERSEPSI
Sedang di sisi muzaki, tugas utamanya selesai begitu sedekah disalurkan. Berhasil tidaknya penerima sedekah, itu urusan kalangan bawah. Disinilah inti soalnya. Yang satu tak lagi mau tahu untuk apa sedekah itu digunakan. Yang menerima pun merasa aman-aman saja sedekah hanya digunakan untuk konsumsi. Sang pemberi berharap sedekah bisa merubah hidup. Sementara dengan berbagai kendala dan alasan, sang penerima pun akhirnya tak menjadikan sedekah sebagai modal. Sedekah sudah disalurkan, namun mengapa orang miskin semakin bertambah-tambah.

Sedang lembaga sosial seperti lembaga pengelola zakat, juga terbentur pada realitas, bahwa mengemas program produktif bukanlah perkara mudah. Membuat usaha sendiri saja sulit, apalagi membuat usaha untuk kehidupan orang lain. Bukan hanya dipaksa sadar melihat sulitnya etos orang bawah, para pekerja sosial ini pun harus melihat kenyataan bahwa ada faktor lain di seputar kemiskinan. Ada kebijakan pemerintah, ada juga ambisi ekpansi bisnis perusahaan swasta. Ada diamnya masyarakat kaya, ada juga kelemahan struktural orang-orang miskin. Ada bencana alam yang memiskinkan Aceh secara massal, namun ada juga konflik yang memfakirkan penduduk di Poso.

Sedekah bagai menyiram api dengan bensin. Alih-alih kemiskinan menyusut, malah menyulut tetangga yang jadi peminta-minta. Pengemis bukannya berkurang, kini malah tak ada lagi perempatan jalan tanpa pengemis. Begitu anak jalanan diurus, berbondong-bondong anak-anak keluarga miskin turut mendiami rumah-rumah singgah. Begitu pengamen cilik mendapat sedekah, teman-teman mainnya pun turut terjun menemani atau jadi pengamen beneran. Program transmigrasi sebagai salah satu cara mengatasi kemiskinan, kini terbengkalai hingga terplesetkan jadi pemerataan kemiskinan. Transmigran yang sukses pun menyulut kecemburuan warga daerah.

Pemerintah yang harusnya bertanggung jawab pada rakyat, malah menaikkan harga BBM. Dalam perkaran BBM ini, pemerintah jelas menempatkan rakyat sebagai pembeli. Untuk mengambil hati, pemerintah memberi subsidi. Padahal mengurus rakyat bawah adalah tanggung jawab sosial. Sementara subsidi merupakan kegiatan sosial. Berarti pemerintah tak paham beda antara tanggung jawab sosial dan kegiatan sosial. Tak paham makna itu jadi cermin, bahwa banyak pejabat tak mengerti tugas kenegaraan. Tugas negara adalah menjamin kehidupan bagi rakyatnya. Bukan malah mempersulit, menjual berbagai asset negara seperti BUMN dan sumber daya alam.

Sedekah jadi terhina karena salah persepsi juga. Dalam pengertian umum, sedekah hanya diartikan materi saja. Padahal seperti yang Rasulullah saw pesankan: berbuat baik dan mencegah dari perbuatan maksiat adalah juga sedekah. Artinya ada sedekah non materi. Merumus kebijakan jelas sedekah. Jika kebijakan pemerintah tidak menyulitkan rakyat, itu adalah sedekah luar biasa para petinggi negara. Sebaliknya menyulitkan hidup rakyat itu perbuatan dzalim. Dengan dalih apapun, pemerintah telah maksiat pada rakyat yang harusnya dilindungi.

Sedekah kebijakan tentu istilah baru yang asing. Sebab dalam kehidupan sebagian masyarakat, istilah sedekah memang tidak punya makna prestis. Bila yang asing dan tak paham dengan makna sedekah ini duduk sebagai petinggi negara, kedudukan sedekah memang tidak akan pernah beringsut. Mereka yang sedari awal telah asing dengan istilah sedekah, tentu makin asing dengan istilah sedekah kebijakan. Bicara kebijakan negara, selama ini terkait dengan dana hibah, grant atau loan. Maka ada IMF dan World Bank, ada globalisasi serta pasar bebas. Dalam konteks kebijakan makro begini, istilah sedekah tentu sesuatu yang amat asing.

Grant hidup dalam suasana penuh prestise di tingkat-tingkat tinggi kenegaraan. Sedekah hidup di pinggir-pinggir jalan, di kampung dan di anak-anak yatim. Grant dihibahkan kepada negara miskin, terutama kepada negara yang terjerat utang. Sedang sedekah telah menghidupi rakyat bawah. Grant diajarkan di perguruan tinggi elit sebagai hadiah untuk negara-negara yang terjerat utang. Sedekah dilantunkan olah para ustadz di berbagai pengajian sebagai ajaran moral saja. Sosok grant dikemas sedemikian rupa seolah jadi penyelamat, sedang sedekah seolah cuma recehan tanpa makna. Maka grant menjadi demikian terhormat di kalangan petinggi negara, sementara entah, barangkali petinggi yang ber-grant-grant itu hanya menyalurkan sedekah melalui supir dan pembantunya. Sedekah yang demikian mulya dalam Islam, justru runtuh di tangan para petinggi yang muslim.

Blog pada WordPress.com.